BRIN Siapkan Peranti Sistem Peringatan Dini Banjir dan Erosi

Selasa, 24 Februari 2026 | 21:35:07 WIB
Republika/Thoudy BadaiWarga beraktivitas saat banjir merendam permukiman di kawasan Pulo Raya, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (20/2/2026). Banjir setinggi sekitar 30-50 centimeter tersebut terjadi akibat intensitas hujan tinggi pada Jum

Jakarta,sorotkabar.com — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menyiapkan peranti sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) untuk mengantisipasi bencana banjir dan erosi.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, riset tersebut difokuskan pada pengembangan teknologi yang mampu mendeteksi potensi banjir dan erosi lebih awal sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan sebelum bencana menimbulkan korban.

“Sekarang yang sedang kita siapkan adalah riset tentang bagaimana early warning system untuk banjir dan erosi,” kata Arif di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Menurutnya, keberadaan sistem peringatan dini sangat krusial karena selama ini banjir dan erosi kerap terjadi tanpa tanda yang terdeteksi secara sistematis. Dengan teknologi EWS, pemerintah dan masyarakat diharapkan memiliki waktu respons yang lebih memadai.

“Selama ini banjir dan erosi kita tidak tahu tiba-tiba datang. Ke depan kita harapkan sudah ada early warning system,” ujarnya.

Arif menuturkan, riset pengembangan teknologi tersebut dimulai pada 2026 dan ditargetkan rampung pada akhir tahun yang sama.

“Mudah-mudahan di akhir 2026 kita sudah bisa memiliki teknologi early warning system untuk banjir dan erosi,” kata dia.

Sistem peringatan dini ini menjadi salah satu proyek prioritas BRIN yang rencananya akan diimplementasikan untuk masyarakat di Sumatera, wilayah yang kerap menghadapi risiko banjir dan erosi.

Sebelumnya, BRIN juga telah mendukung penanganan bencana di Sumatera dengan mengirimkan sejumlah unit mesin Arsinum (Air Siap Minum) guna membantu penyediaan air layak konsumsi bagi warga terdampak.

Selain itu, BRIN mengerahkan pesawat nirawak atau drone berbasis Ground Penetration Radar (GPR) untuk mendukung proses rekonstruksi dan evakuasi.

Teknologi tersebut mampu mendeteksi objek hingga kedalaman sekitar 100 meter di bawah permukaan tanah, sehingga membantu pencarian korban maupun pemetaan kondisi tanah di wilayah rawan longsor.(*) 
 

Terkini