Petani Lombok Tengah Ubah Lahan Cabai Jadi Green House Melon

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:24:30 WIB
Lahan cabai dialihfungsikan menjadi green house modern untuk budi daya melon premium di Desa Jurang Jaler, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. (Beritasatu.com/M Awaludin)

Lombok Tengah,sorotkabar.com – Inovasi di sektor pertanian terus berkembang di Nusa Tenggara Barat. Seorang petani di Desa Jurang Jaler, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, berhasil mengalihfungsikan lahan cabai menjadi green house modern untuk budi daya melon premium yang bernilai ekonomi tinggi.

Petani tersebut, Sumarlin Azizi, memanfaatkan lahan seluas 3,6 are yang sebelumnya ditanami cabai. Kini, area itu diubah menjadi green house berisi sekitar 600 batang melon premium yang dibudidayakan dengan sistem polybag serta teknologi pertanian modern.

Hasilnya cukup menjanjikan. Dari satu kali panen, Sumarlin mampu menghasilkan sekitar lima kuintal melon premium dengan omzet mencapai Rp 15 juta.

Selain menjual buah, ia juga mengembangkan konsep wisata agro petik melon yang terbuka untuk masyarakat sekitar.

“Untuk harga jual, 1 kilogram melon premium kami banderol Rp 30.000. Sekali panen bisa sampai lima kuintal, jadi omzetnya sekitar Rp 15 juta,” ujar Sumarlin, Jumat (9/1/2026).

Ia menuturkan, inovasi tersebut bermula dari keinginannya mencari komoditas alternatif yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Pada awal 2024, ia sempat mencoba menanam melon jenis biasa, tetapi belum memberikan hasil maksimal dari sisi rasa dan daya saing.

“Awalnya kami tanam melon biasa, hasilnya cukup baik, tetapi tingkat kemanisannya masih kalah. Setelah itu kami beralih ke melon premium seperti Kirani dan Alisa,” katanya.

Pada penanaman berikutnya, Sumarlin kembali melakukan pengembangan dengan menanam varietas Lavender dan Kirana. Meski sempat terkendala faktor cuaca dan minimnya sinar matahari, kualitas buah tetap terjaga.

“Varietas lavender ini seharusnya bernet, tetapi karena cuaca dan kurang sinar matahari, jaringnya tidak keluar maksimal,” jelasnya.

Green house yang digunakan merupakan hasil penataan ulang dari lahan cabai sebelumnya. Sistem pertanian yang diterapkan kini telah terintegrasi dengan teknologi otomatis berbasis digital.

“Lahan ini bekas cabai, kemudian kami atur ulang menjadi green house. Sistemnya sudah modern, penyiraman dan pemupukan bisa diatur otomatis,” ungkapnya.

Menurut Sumarlin, model pertanian seperti ini sangat memungkinkan diterapkan petani lain, terutama untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus menarik minat generasi muda ke dunia pertanian.

Ia berharap pengalamannya dapat menjadi contoh bahwa pertanian dapat dikelola secara modern dan menguntungkan. Dengan keberanian berinovasi dan memanfaatkan teknologi, sektor pertanian dinilai mampu memberikan peluang ekonomi yang lebih besar dan berkelanjutan.

Keberadaan green house melon premium di Desa Jurang Jaler pun menjadi bukti bahwa pertanian di Lombok Tengah terus berkembang, tidak hanya sebagai penghasil pangan, tetapi juga sebagai usaha berbasis wisata dan teknologi.(*) 
 

Terkini