Jakarta, sorotkabar.com-Data baru organisasi konservasi Burung Indonesia menunjukkan 159 spesies burung di Indonesia tercatat berstatus terancam punah.
Dalam laporan berjudul Status Burung di Indonesia, Burung Indonesia mencatat 29 spesies berstatus Kritis (Critically Endangered/CR), 49 spesies berstatus Genting (Endangered/EN), dan 81 spesies berstatus Rentan (Vulnerable/VU).
Dalam pernyataannya, Burung Indonesia mengatakan perubahan status pada beberapa spesies terjadi karena adanya pembaruan data ilmiah yang memberikan gambaran lebih akurat mengenai kondisi populasi di alam. Lembaga konservasi itu mengungkapkan, meski pengetahuan tentang burung terus berkembang, berbagai tekanan terhadap populasi burung di alam masih berlangsung.
Perubahan penggunaan lahan yang menyebabkan hilangnya atau terpecahnya habitat menjadi salah satu ancaman utama. Selain itu, perburuan untuk perdagangan burung peliharaan juga masih menjadi tekanan besar bagi banyak spesies.
Head of Conservation & Development Burung Indonesia, Adi Widyanto, mengatakan laporan Status Burung di Indonesia tidak hanya menjadi rujukan ilmiah, tetapi juga dimanfaatkan dalam praktik konservasi. Ia mengatakan dokumen ini digunakan berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, organisasi nonpemerintah, hingga praktisi konservasi untuk perencanaan program konservasi, survei, hingga identifikasi satwa.
"Rujukan taksonomi yang digunakan juga menjadi dasar bagi berbagai kerja prioritas konservasi, termasuk penilaian Daftar Merah IUCN kelompok burung serta identifikasi Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati (Important Bird Areas/IBA) dan Daerah Keanekaragaman Hayati Utama (Key Biodiversity Areas/KBA)," kata Adi dalam pernyataannya, Rabu (2/4/2026).
Laporan ini mencatat hingga Januari 2026 terdapat 1.834 spesies burung di Indonesia, dengan 538 spesies di antaranya merupakan burung endemis, yaitu spesies yang seluruh sebaran alaminya hanya terdapat di wilayah Indonesia.
Dari sisi persebaran, Sulawesi memiliki jumlah spesies endemis tertinggi, yakni 159 spesies, diikuti Maluku dengan 117 spesies, Jawa dan Bali 80 spesies, Papua 75 spesies, Nusa Tenggara 62 spesies, Sumatra 54 spesies, dan Kalimantan lima spesies. Angka per wilayah ini menunjukkan jumlah spesies endemis Indonesia yang tercatat hadir di wilayah tersebut.
Laporan itu mengungkapkan, dari sisi jumlah spesies yang tercatat di Indonesia, tidak terjadi perubahan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, di balik angka yang tampak stabil tersebut, terjadi perubahan penting dalam kajian ilmiah.
Sebanyak lima spesies baru ditambahkan ke dalam daftar, sementara enam spesies lainnya dikeluarkan setelah adanya pembaruan kajian taksonomi. Burung Indonesia mengatakan perubahan ini tidak sekadar memengaruhi angka total spesies, tetapi juga berkaitan dengan peninjauan ulang identitas serta batasan antarspesies.
Contohnya terlihat pada kelompok kangkok (Hierococcyx) di Kalimantan. Menurut kajian terbaru, kangkok gelap (Hierococcyx bocki) yang sebelumnya dianggap satu spesies ternyata berubah menjadi dua spesies.
Dari kajian mendalam, ditemukan populasi kangkok gelap yang berada di Kalimantan memiliki karakter vokal yang berbeda dibandingkan dengan wilayah lain yang menjadi persebarannya, yaitu Sumatra dan Semenanjung Malaysia. Oleh karena itu, statusnya dinaikkan menjadi spesies yang berbeda, yakni kangkok tiga-nada (Hierococcyx tiganada).
Perubahan lain juga terjadi pada kelompok myzomela di Kepulauan Banda. Kajian terbaru menunjukkan bahwa myzomela banda yang sebelumnya dianggap satu spesies ternyata memiliki perbedaan suara yang kuat dan tidak saling merespons kicauan satu sama lain antara populasi di Pulau Tanimbar dan Pulau Babar.
Hasil penelitian ini membuat populasi di dua pulau tersebut diperlakukan sebagai spesies tersendiri, yaitu myzomela tanimbar (Myzomela annabellae) dan myzomela babar (Myzomela babarensis).
Selain itu, ada pula spesies yang ditambahkan karena perkembangan pengetahuan mengenai sebaran habitatnya. Puyuh-siul dulit (Rhizothera dulitensis) dimasukkan ke dalam daftar burung Indonesia karena penelitian menunjukkan bahwa habitat alaminya di pegunungan Borneo kemungkinan juga mencakup wilayah Kalimantan di Indonesia, meskipun catatan perjumpaan langsung masih terbatas.
Di sisi lain, beberapa spesies dikeluarkan dari daftar setelah hasil kajian terbaru menunjukkan bahwa mereka menjadi subspesies. Misalnya, paok sangihe dan paok siau yang kini kembali digabungkan menjadi subspesies paok sulawesi (Erythropitta celebensis).
Empat takson lain, seperti myzomela rote, sikatan kalao, sikatan bubik-sulawesi, dan burung-madu wakatobi, juga tidak lagi diperlakukan sebagai spesies tersendiri. Saat ini, keempatnya ditempatkan sebagai subspesies dari spesies kerabatnya, yaitu Myzomela dammermani irianawidodoae, Cyornis djampeanus kalaoensis, Muscicapa dauurica sodhii, dan Cinnyris jugularis infrenatus. Hal ini terjadi karena masih diperlukan bukti tambahan untuk memastikan statusnya sebagai spesies penuh.(*)