Jakarta,sorotkabar.com – Pemerintah membuka peluang impor produk perunggasan dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari kerja sama perdagangan resiprokal antara Indonesia dan AS melalui perjanjian The Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Selain komoditas beras, Indonesia juga akan mendatangkan bibit ayam dari AS untuk mendukung industri peternakan nasional.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan impor tersebut berupa ayam hidup atau live poultry untuk kebutuhan grand parent stock (GPS) sebanyak 580.000 ekor. Nilai impor tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$ 17 juta hingga US$ 20 juta.
Menurut Haryo, GPS merupakan sumber genetik utama yang sangat dibutuhkan peternak ayam di dalam negeri. Hingga saat ini Indonesia juga belum memiliki fasilitas pembibitan GPS.
Selain bibit ayam, impor bagian ayam seperti leg quarters, breasts, legs, atau thighs pada dasarnya tidak dilarang selama memenuhi persyaratan kesehatan hewan, keamanan pangan, kebutuhan tertentu, serta ketentuan teknis yang berlaku.
Ia menambahkan Indonesia juga masih melakukan impor mechanically deboned meat (MDM) untuk kebutuhan industri makanan domestik. Produk tersebut digunakan sebagai bahan baku pembuatan sosis, nugget, bakso, serta berbagai produk olahan lainnya.
Volume impor MDM diperkirakan berkisar antara 120.000 ton hingga 150.000 ton per tahun.
Meski membuka peluang impor, pemerintah menegaskan tetap memprioritaskan perlindungan terhadap peternak lokal serta menjaga keseimbangan pasokan dan harga ayam di dalam negeri.
“Tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri domestik,” ujar Haryo.(*)