Washington,sorotkabar.com -- Militer Amerika Serikat (AS) bersiap untuk melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (21/2/2026), seperti dikatakan seorang pejabat keamanan nasional dilaporkan CBS News dilansir Al Jazeera, Kamis (19/2/2026).
Namun, menurut laporan itu, Trump belum mengambil keputusan final apakah ia akan mengotorisasi serangan itu.
Menurut sumber tadi, lini masa potensi operasi militer AS di Iran kemungkinan akan melebihi akhir pekan mendatang. Diskusi terus dilaksanakan di antara pejabat Gedung Putih menimbang eskalasi implikasi politik dan militer yang lebih luas akibat serangan terhadap Iran.
Sementara itu, beberapa pejabat mengatakan Pentagon memindahkan beberapa personel keluar dari Timur Tengah ke eropa dalam beberapa hari ke depan sebagai pencegahan atas potensi aksi balasan dari Iran. Menurut sumber, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio akan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam kurun dua pekan ke depan.
Perkembangan perundingan
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan putaran kedua perundingan dengan Iran berlangsung produktif dalam beberapa hal, tetapi Iran belum bersedia untuk terlibat dalam pembahasan sejumlah “garis merah” yang ditetapkan Presiden Donald Trump. Vance, pada Selasa (17/2/2026), tidak menyebutkan secara rinci “garis merah” mana yang ditolak untuk dibahas oleh pemerintah Iran, tetapi ia menegaskan bahwa kepentingan utama AS tidak ingin Iran memiliki senjata nuklir.
“Dalam beberapa hal, itu berjalan baik. Mereka sepakat untuk bertemu setelahnya. Tetapi dalam hal lain, sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan sejumlah garis merah yang belum bersedia diakui dan dibahas oleh pihak Iran,” kata wakil presiden dalam wawancara dengan Fox News.
“Kami akan terus mengupayakannya. Namun tentu saja, presiden berhak untuk menentukan kapan bahwa diplomasi telah mencapai batas alaminya. Kami berharap tidak sampai pada titik itu, tetapi jika itu terjadi, itu akan menjadi keputusan presiden,” tambahnya.
Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sementara tim Amerika Serikat dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Araghchi mengatakan telah terjadi kemajuan di Jenewa dan menggambarkan suasana perundingan sebagai lebih konstruktif.
“Diputuskan bahwa kedua belah pihak akan mengerjakan draf potensi kesepakatan, dan setelah saling bertukar teks. Waktu untuk putaran pembicaraan berikutnya akan ditentukan,” kata Araghchi.
Diplomat tertinggi Iran itu menambahkan bahwa terdapat jalur yang jelas ke depan untuk negosiasi nuklir dengan pihak Amerika, yang dinilai positif dari perspektif Iran.
Pada 6 Februari, Oman menjadi tuan rumah putaran pertama pembicaraan tidak langsung di Muscat. Pembicaraan tersebut merupakan yang pertama sejak Trump memerintahkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni. Sejak itu, Trump mengarahkan peningkatan kekuatan militer AS di kawasan seraya mengancam Iran agar mencapai kesepakatan dengan Washington.
Di tengah proses perundingan nuklir, militer Iran pada Senin (16/2/2026) menggelar latihan operasi di Selat Hormuz. Komandan tertinggi angkatan laut Iran menyatakan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mempertahankan “dominasi intelijen penuh selama 24 jam” di Selat Hormuz dalam latihan itu.
Kepala Angkatan Laut IRGC Laksamana Muda Alireza Tangsiri mengatakan pengawasan dilakukan secara menyeluruh, mencakup permukaan laut, udara, hingga bawah permukaan, sebagaimana dikutip media pemerintah Iran. Ia menyebut pengawasan tersebut bertujuan menjamin keselamatan pelayaran di Selat Hormuz, yang setiap hari dilalui lebih dari 80 kapal tanker minyak dan kapal kontainer, menjadikannya salah satu jalur perdagangan maritim tersibuk di dunia.
Menurut Tangsiri, latihan militer berlangsung di Teluk Persia dan Selat Hormuz, dengan pulau-pulau di kawasan tersebut berfungsi sebagai “benteng pertahanan” yang berada di bawah tanggung jawab penuh Angkatan Laut IRGC.
Ia menjelaskan latihan itu merupakan agenda tahunan rutin, dengan fokus pada manuver taktis serta penggunaan peralatan tertentu yang sebagian belum diumumkan ke publik. “Respons cepat dan tegas terhadap ancaman keamanan maritim menjadi inti latihan ini,” ujarnya.
Tangsiri juga menyatakan unit respons cepat Angkatan Laut IRGC secara berkala berlatih melakukan intervensi, inspeksi, hingga penyitaan kapal yang dinilai tidak memiliki izin di perairan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Sebelumnya pada Senin pagi, IRGC mengumumkan dimulainya latihan bertajuk Pengendalian Cerdas Selat Hormuz di bawah pengawasan Panglima IRGC Mayor Jenderal Mohammad Pakpour. IRGC menyebut latihan tersebut bertujuan menguji kesiapan operasional, skenario pengamanan, serta respons militer terhadap potensi ancaman di kawasan Selat Hormuz, sekaligus mengevaluasi posisi geopolitik Iran di Teluk Persia dan Laut Oman.(*)