Peluang Harga Emas Dunia Tembus US$ 5.000 Makin Besar

Peluang Harga Emas Dunia Tembus US$ 5.000 Makin Besar
Ilustrasi emas (AP/beritasatu)

Jakarta,sorotkabar.com - Harga emas dunia berpeluang besar menembus level US$ 5.000 per ons troi pada 2026. 

Bahkan, peluang tersebut kini mendekati 40%. Pada pagi hari ini, Selasa (20/1/2026), harga emas dunia masih nyaman di atas level US$ 4.600 per ons troi.

Head of Gold Strategy State Street Investment Management, Aakash Doshi menyampaikan, volatilitas jangka pendek merupakan hal wajar ketika harga emas berada pada level tinggi. Namun, fluktuasi tersebut tidak mengubah tren kenaikan jangka panjang.

“Beberapa hari aksi ambil untung atau konsolidasi selama sebulan tidak mengubah tren naik yang sesungguhnya. Probabilitas emas mencapai US$ 5.000 dalam enam hingga sembilan bulan ke depan kini sudah di atas 30%, bahkan mendekati 40%,” kata Doshi, dikutip dari Kitco News, Selasa (20/1/2026).

Doshi menilai posisi emas justru semakin kuat meski indeks saham AS, seperti S&P 500, juga mencetak rekor baru.

“Kondisi ini justru meningkatkan kepercayaan saya terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Apabila saham jatuh dan emas sudah di US$ 4.500, itu baru mengkhawatirkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pasar saat ini lebih fokus pada risiko ekstrem dibandingkan faktor suku bunga semata. 

Korelasi saham dan obligasi yang tidak stabil, ditambah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan global, menjadi pendorong utama permintaan emas.

Ketidakpastian Jadi Penopang Harga Emas

Laporan State Street January Gold Monitor menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik, defisit fiskal yang tinggi, serta ketidakpastian kebijakan sebagai faktor struktural pendukung harga emas. Lonjakan utang pemerintah dan korporasi global yang mencapai rekor tertinggi pada 2025 juga menjadi pendorong utama permintaan logam mulia.

Dalam kondisi distribusi risiko yang sangat lebar, emas dinilai semakin relevan sebagai aset lindung nilai dengan volatilitas relatif rendah.

“Ketika hasil yang mungkin terjadi sangat beragam, aset safe haven seperti emas menjadi pilihan utama,” ujar Doshi.

Meski pasar masih berspekulasi soal pemangkasan suku bunga, Doshi menilai kebijakan moneter kini bukan lagi faktor dominan penggerak harga emas. Inflasi Amerika Serikat (AS) memang tidak lagi meningkat, tetapi juga belum menunjukkan tanda kembali ke target 2% The Fed.

Dalam skenario dasar State Street, The Fed diperkirakan menahan suku bunga hingga 2026, kecuali terjadi pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja. Meski demikian, sejarah menunjukkan emas justru mampu berkinerja baik saat bank sentral berada dalam fase jeda.

“Emas bisa tampil sangat baik ketika The Fed menahan suku bunga, selama arah kebijakan tetap mengarah pada penurunan di masa depan,” tambahnya.

Bank Sentral dan ETF Jadi Penopang Kuat

Permintaan fisik dan investasi terus memberikan dasar kuat bagi harga emas. Pembelian emas oleh bank sentral tetap menjadi jangkar struktural, dengan karakter permintaan yang semakin tidak sensitif terhadap harga. Kondisi ini memperkuat dukungan jangka panjang emas di atas US$ 4.000 per ons.

Selain itu, arus dana ke ETF berbasis emas mencetak rekor pada akhir 2025, melawan pola musiman yang biasanya melemah pada akhir tahun. State Street menilai tren ini masih memiliki ruang pertumbuhan signifikan sepanjang 2026.

Meski demikian, total kepemilikan emas global masih berada di bawah rekor tertinggi tahun 2020.

“Emas belum menjadi aset utama secara global. Masih ada ruang besar untuk peningkatan alokasi. Saat ini, emas terlihat sangat nyaman di kisaran US$ 4.000 hingga US$ 5.000 per ons troi,” kata Doshi.

Ia menegaskan, fase konsolidasi harga tidak akan merusak prospek bullish emas.

“Harga yang bergerak datar selama beberapa bulan tidak merusak cerita besar. Justru memberi kesempatan investor untuk kembali masuk, apalagi setiap penurunan harga selalu diborong pasar,” ujarnya.

Ancaman Tarif Trump ke Negara Eropa

Harga emas yang melonjak ke level tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) juga didorong aksi pembelian aset aman (safe haven) setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa.

Akhir pekan lalu, Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif secara bertahap kepada beberapa sekutu Eropa, kecuali Amerika Serikat diizinkan membeli Greenland. Ancaman tersebut memperuncing konflik dengan Denmark terkait pulau Arktik yang kaya sumber daya itu.

Analis pasar senior XS.com, Linh Tran, menilai ketegangan kebijakan dan risiko institusional menjadi pemicu utama pergerakan pasar.

"Ketika risiko institusional dan kebijakan kembali muncul, pasar cenderung bereaksi cepat dengan mengalihkan portofolio ke aset safe haven, dengan emas kembali menjadi pilihan utama," ujar Linh Tran, dikutip dari Reuters.

Secara historis, emas dikenal sebagai aset yang berkinerja baik di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, serta dalam lingkungan suku bunga rendah. Sepanjang 2025, harga emas tercatat melonjak lebih dari 64% dan telah menguat lebih dari 8% sejak awal tahun ini.

Pergerakan Harga Emas Antam

Pergerakan harga emas dunia ini turut memengaruhi harga emas Antam. Bahkan pada hari ini, emas Antam kembali mencatatkan rekor tertinggi baru.

Harga emas Antam pada hari ini naik Rp 2.000 per gram menjadi Rp 2,705 juta per gram yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, harga buyback emas Antam pada hari ini juga naik Rp 1.000 menjadi Rp 2,546 juta per gram.

Rekor tertinggi harga emas Antam sebelumnya tercatat pada Senin (19/1/2026) sebesar Rp 2,703 juta per gram.(*) 
 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index