Banjir Bandang di Sumatera, Pentingnya Ekosistem Hulu dan DAS Sebagai Nadi Keseimbangan Iklim

Banjir Bandang di Sumatera, Pentingnya Ekosistem Hulu dan DAS Sebagai Nadi Keseimbangan Iklim
Warga mengamati sampah kayu gelondongan pasca banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11/2025). Sampah kayu gelondongan tersebut menumpuk di pemukiman warga dan sungai pasca banjir b

Jakarta,sorotkabar.com – ?Banjir bandang dan longsor melanda Sumatera imbas rusaknya ekosistem yang membentang di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara pada 24–25 November 2025, meninggalkan korban jiwa dan kerusakan besar. Hingga 26 November, sedikitnya 21 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya terdampak.

Material kayu besar, batu, dan lumpur terbawa arus deras menutupi akses jalan, sementara sejumlah wilayah pemukiman terdampak banjir dan tanah longsor. Di Taput, sedikitnya 50 rumah rusak dan dua jembatan terputus, membuat evakuasi harus melalui jalur alternatif. Area terdampak mencakup Kelurahan Angin Nauli, Aek Muara Pinang, Aek Habil, Pasar Belakang, Pasar Baru, Simare-mare, Sibolga Hilir, Hutabarangan, hingga Pancuran Kerambil dan Pancuran Gerobak.

?Cuaca ekstrem di Sumatera Utara dipicu interaksi Siklon Tropis Koto dan Bibit Siklon 95B yang memicu hujan sangat lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi 2,5–4 meter di sejumlah perairan. Namun kerusakan parah yang terjadi bukan hanya akibat fenomena meteorologis.

Di kawasan Batang Toru, kerusakan hutan di hulu akibat alih fungsi hutan menjadi kebun sawit, illegal logging, hingga ekspansi pertambangan dan pembangunan PLTA telah menghilangkan fungsi ekologis kawasan tersebut sebagai penyerap dan penahan air. Ketika hujan ekstrem terjadi, air tak lagi tertahan menuruni lereng dengan sangat cepat dan membawa potongan kayu dalam volume besar yang memperparah banjir bandang.

?Senior Data and GIS Specialist Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi menjelaskan Greenpeace Indonesia mencatat dalam tiga dekade terakhir, Pulau Sumatera menjadi salah satu kawasan yang mengalami deforestasi tercepat di dunia. Sejak tahun 1990, lebih dari tujuh juta hektare hutan primer hilang, dan jutaan hektare lainnya mengalami degradasi hingga berubah menjadi perkebunan, pertanian lahan kering, dan hutan tanaman industri.

Kebijakan ekspansi perkebunan skala besar, pembukaan kanal di rawa gambut, serta alih fungsi lahan di dataran rendah menjadikan lanskap hutan Sumatera terfragmentasi dan terdesak ke punggung Bukit Barisan.

??"Akibatnya, lebih dari 80 persen DAS di Sumatera kini tercatat memiliki tutupan hutan alam kurang dari 25 persen, sebuah indikator bahwa sistem hidrologi yang menopang kehidupan puluhan juta masyarakat telah memasuki fase kritis," kata Sapta saat dihubungi Republika, Ahad (30/11/2025).(*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index