Ekspor Kopi UMKM Tertekan Rupiah Anjlok dan BI Rate Naik

Kamis, 25 Juni 2026 | 19:52:51 WIB
Pengusaha kopi Indonesia. (Beritasatu.com/Addin Anugrah)

Jakarta,sorotkabar.com - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di sektor ekspor kopi mulai merasakan tekanan biaya usaha akibat kombinasi pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), serta fluktuasi harga minyak dunia. Kondisi tersebut berdampak pada kebutuhan modal kerja, biaya produksi, hingga ongkos pengiriman ke pasar internasional.

Pelaku UMKM kopi Carlo Mayer mengatakan, kenaikan suku bunga membuat akses pembiayaan usaha menjadi lebih berat, terutama bagi pelaku usaha yang masih mengandalkan pinjaman untuk mendukung kegiatan operasional.

"Sebenarnya iya, karena kan posisi kan suku bunganya ini, kita sangat berpengaruh sebenarnya sih," kata Carlo saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2026).

Menurut Carlo, tekanan juga datang dari penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Sebagai eksportir, transaksi usaha maupun sejumlah komponen biaya masih berkaitan erat dengan mata uang asing sehingga pelemahan rupiah meningkatkan beban usaha.

"Karena pertama kita kan berhubungan juga dengan dolar ya. Jadi harga-harganya itu kita pun sebenarnya bisa naik," ujarnya.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (25/6/2026) pukul 11.55 WIB, nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.929 per dolar AS. Pelemahan kurs tersebut membuat biaya yang menggunakan valuta asing menjadi lebih mahal, termasuk untuk pembelian bahan pendukung dan aktivitas ekspor.

Selain nilai tukar, biaya logistik juga ikut terdampak oleh pergerakan harga minyak dunia. Menurut Carlo, ongkos pengiriman produk ke luar negeri sangat dipengaruhi oleh perubahan harga bahan bakar.

"Namun untuk pengiriman keluar negerinya sendiri pun kita kan mengikuti harga minyak gitu," kata Carlo.

Mengacu data Oil Price pada Kamis (25/6/2026) pukul 11.55 WIB, harga minyak mentah Brent berada di level US$ 72,59 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di US$ 69,44 per barel.

Carlo menambahkan, kenaikan suku bunga juga memengaruhi keputusan pelaku usaha untuk mencari tambahan modal karena biaya pinjaman menjadi lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

"Jadi pasti dengan seperti itu kita melakukan proses mau peminjaman atau apapun itu semuanya itu akan berdampak juga ke kita. Dan itu lumayan cukup naik juga sih," ungkapnya.

Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya dirasakan oleh usahanya, tetapi juga dialami banyak pelaku UMKM lainnya. Di saat yang sama, harga berbagai kebutuhan usaha terus meningkat sehingga ruang gerak pelaku usaha semakin terbatas.

"Sudah lumayan cukup banyak karena rata-rata sebenarnya kan untuk di Indonesia semua harganya sudah mulai mahal ya. Jadi suku bunga di kita itu di mata luar juga kan banyak juga produk-produk impor. Jadi kita juga lumayan berpengaruh, lebih agak sulit untuk sekarang ini sih. Ini kan sudah terdampak oleh kenaikan suku bunga," ujarnya.(*)

Halaman :

Terkini