Pemerintah Dorong Bahasa Daerah Masuk Ekosistem AI agar Tidak Punah

Selasa, 26 Mei 2026 | 20:02:51 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat pada acara Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026 yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM), Depok, Senin, 25 M

Depok,sorotkabar.com – Pemerintah mendorong agar ratusan bahasa daerah di Indonesia diintegrasikan ke dalam ekosistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence/AI) dan ruang digital untuk menyelamatkannya dari dari ancaman kepunahan di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi bahasa asing. Bahasa daerah tidak boleh sekadar menjadi warisan masa lalu, tetapi harus tetap hidup, dan digunakan generasi muda.

Pesan tersebut menjadi sorotan utama dalam puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026 di Pusat Pelatihan SDM Kemendikdasmen, Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (25/5/2026), yang menjadi bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sekaligus momentum penguatan revitalisasi bahasa daerah di Indonesia.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat menekankan pelestarian bahasa daerah tidak boleh terjebak dalam seremoni semata. Ia mendesak sekolah untuk menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar aktif dalam proses belajar mengajar terutama di lingkungan Pendidikan agar anak-anak tetap akrab dengan bahasa ibu mereka sejak dini.

“Jika bahasa daerah hanya hadir di buku atau sekadar menjadi mata pelajaran tanpa digunakan dalam pembelajaran sehari-hari, lama-kelamaan bahasa daerah hanya akan menjadi kenangan,” ujar Atip.

Wamendikdasmen menyoroti pentingnya keterlibatan teknologi dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Dalam langkah strategisnya dengan mulai membidik sektor teknologi untuk menjaga relevansi bahasa daerah di masa depan.

Atip menyatakan pengembangan teknologi large language model (LLM) harus dioptimalkan agar bahasa-bahasa nusantara dapat diakses melalui platform digital dan aplikasi berbasis AI.

“Bahasa daerah juga harus masuk ke dalam ekosistem AI agar tetap relevan dan terus digunakan generasi muda,” ujar dia.

Langkah ini menandai pergeseran paradigma pemerintah dalam memandang pelestarian bahasa, yakni dari sisi kebudayaan tradisional menuju transformasi digital yang modern.

Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan keragaman bahasa terbesar di dunia. Berdasarkan data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, terdapat ratusan bahasa daerah yang tersebar di berbagai wilayah nusantara.

Bahasa-bahasa tersebut menyimpan nilai budaya, cerita rakyat, hingga cara pandang masyarakat yang diwariskan lintas generasi.

Festival bertema “Suara Tunas Bahasa Ibu dalam Pendidikan Multibahasa” itu berlangsung dari 22 hingga 26 Mei 2026. Menghadirkan 137 peserta terbaik dari 36 provinsi, yang mewakili 105 bahasa dan dialek daerah dari 36 provinsi.

Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, mengatakan Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional merupakan puncak dari program Revitalisasi Bahasa Daerah yang selama ini dijalankan pemerintah di berbagai daerah.

Program tersebut melibatkan pelatihan guru, penyusunan bahan ajar, pendampingan sekolah, hingga festival bahasa daerah secara berjenjang dari tingkat sekolah sampai provinsi.

“Tahun ini wajah pendidikan nasional kita semakin ramah terhadap keberagaman,” jelas Hafidz.

Para peserta menampilkan berbagai pertunjukan seperti dongeng daerah, pidato, tembang tradisional, hingga seni pertunjukan kreatif berbasis bahasa ibu.

Salah satu peserta, Rahmi Oktavia, mengaku bangga bisa tampil membawakan Tembang Tradisi Onduo di hadapan peserta dan pejabat nasional.

Menurut siswi SMPN 1 Rambah Hilir itu, penggunaan bahasa daerah bukan sesuatu yang memalukan, melainkan bagian penting dari identitas budaya. “Dengan terus menuturkannya, kita ikut menjaga warisan budaya daerah agar tetap hidup,” ujarnya.

FTBIN 2026 juga dihadiri sejumlah pejabat negara, kepala daerah, kepala balai bahasa, guru, hingga pegiat literasi dari berbagai wilayah Indonesia. Melalui festival ini, pemerintah berharap generasi muda semakin percaya diri menggunakan bahasa daerah, baik di ruang kelas maupun di ruang digital.(*)

Halaman :

Terkini