Tekanan Rupiah Akan Mereda, Sekarang Saatnya Jual Dolar AS

Kamis, 14 Mei 2026 | 20:20:42 WIB
Tekanan Rupiah Akan Mereda, Sekarang Saatnya Jual Dolar AS

Jakarta,sorotkabar.com – Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, Fithra Faisal Hastiadi, menilai saat ini merupakan waktu yang tepat bagi masyarakat untuk menjual dolar Amerika Serikat (AS). Pasalnya, tekanan terhadap rupiah diperkirakan mulai mereda dalam beberapa pekan ke depan dan nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat.

Fithra mengatakan pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS lebih banyak dipengaruhi faktor geopolitik global dan faktor musiman, bukan karena kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Menurutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kenaikan risiko global yang berdampak pada pergerakan US Treasury yield atau imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun.

“Jadi dengan adanya tensi di Timur Tengah, dalam hal ini meningkatkan faktor risiko, sehingga kalau kita lihat di Amerika Serikat, pergerakan US Treasury yield, yaitu obligasi pemerintah Amerika Serikat yang bertenor 10 tahun, yield-nya naik terus,” kata Fithra dalam program Beritasatu Sore di Beritasatu TV, Kamis (14/5/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan yield terjadi karena sejumlah lembaga asuransi di Amerika Serikat mulai menjual kepemilikan obligasi mereka untuk memenuhi kebutuhan likuiditas akibat meningkatnya klaim pengangguran dan kerugian usaha.

“Kalau kita lihat perilaku dari lembaga asuransi di Amerika Serikat, mereka sudah mulai menjual kepemilikan obligasinya. Kenapa? Karena mereka harus membayar klaim pengangguran yang meningkat, dan juga klaim kerugian usaha. Sehingga ketika mereka butuh cash, mereka menjual kepemilikan obligasi yang mereka miliki,” ungkapnya.

Kenaikan yield obligasi AS tersebut kemudian memicu capital outflow atau arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Karena itu dijualin semua, maka yield-nya meningkat. Kalau yield-nya sudah meningkat, itu membuat semacam tarikan gravitasi dengan negara-negara lain, sehingga pada akhirnya memicu capital outflow,” jelas Fithra.

Selain faktor geopolitik, Fithra menyebut pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor musiman yang membuat permintaan dolar AS meningkat pada Mei 2026.

“Di bulan Mei ada dividend repatriation. Permintaan dolar juga meningkat karena musim haji dan harus bayar sekolah di luar negeri,” katanya.(*)

Halaman :

Terkini