Dunia Terancam Krisis Pangan, RI Catat plCadangan Beras 4,7 Juta Ton

Rabu, 15 April 2026 | 22:35:34 WIB
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan capaian cadangan pangan saat ini merupakan hasil langkah antisipatif pemerintah sejak awal. (Beritasatu.com/Muhammad Farhan)

Jakarta,sorotkabar.com - Kekhawatiran krisis pangan global meningkat akibat konflik geopolitik, terutama di Timur Tengah. Namun, Indonesia justru mencatat capaian positif dengan cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai 4,7 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.

Gangguan rantai pasok global, hambatan logistik, dan ketidakpastian perdagangan internasional dinilai berpotensi menekan ketersediaan pangan serta memicu lonjakan harga di berbagai negara.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki fondasi ketahanan pangan yang kuat. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan capaian cadangan pangan saat ini merupakan hasil langkah antisipatif pemerintah sejak awal.

“Sejak awal, Bapak Presiden sudah menekankan pentingnya swasembada dan penguatan cadangan pangan. Ini menjadi langkah strategis untuk menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian,” ujar Amran dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026).

Cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog saat ini mencapai 4,7 juta ton dan terus bergerak menuju 5 juta ton. Angka ini menjadi rekor tertinggi sejak Bulog berdiri.

Selain CBP, ketersediaan beras di pasar domestik dan sektor horeca (hotel, restoran, dan katering) mencapai sekitar 12 juta ton. Sementara itu, potensi produksi dari standing crop juga diproyeksikan terus menopang pasokan hingga akhir tahun.

Ketiga lapisan tersebut menjadi fondasi ketahanan pangan nasional yang diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan hingga 11 bulan ke depan.

“Cadangan kita saat ini 4,7 juta ton dan terus menuju 5 juta ton. Dengan posisi ini, kebutuhan pangan kita cukup hingga 11 bulan ke depan. Ini adalah bentuk kesiapan Indonesia dalam menghadapi potensi krisis pangan global,” tegas Amran.

Ia menambahkan, dinamika global saat ini menunjukkan pentingnya kemandirian pangan. Ketergantungan pada rantai pasok internasional dinilai menjadi kelemahan yang harus diantisipasi.

“Dunia saat ini dihadapkan pada ketidakpastian. Bisa karena konflik, bisa karena kebijakan negara lain yang membatasi ekspor. Terkait hal itu, kita harus memastikan produksi dalam negeri kuat dan cadangan kita cukup,” katanya.

Sebelumnya, Rusia bahkan menyerukan pembentukan cadangan pangan bersama negara-negara BRICS sebagai langkah antisipasi krisis global. Kementerian Pertanian memandang inisiatif tersebut sebagai strategi penting dalam memperkuat stabilitas pangan dunia.

Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk tidak hanya menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas pangan kawasan dan global. Komitmen tersebut sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang sejak awal menekankan pentingnya swasembada pangan, termasuk saat Panen Raya Karawang pada 7 Januari 2026.(*) 
 

Terkini