Pulang ke Rumah: Kisah Hiu Zebra yang Nyaris Hilang dari Raja Ampat

Kamis, 19 Februari 2026 | 19:44:57 WIB
Tangkapan layarHiu Zebra

Jakarta,sorotkabar.com — Dari telur yang melintasi lautan, ke kandang laut yang mengajarkan mereka bertahan hidup, hingga kembali ke perairan yang hampir melupakannya, ini adalah kisah kepulangan hiu zebra ke tanah air mereka yang nyaris punah.

Ada sesuatu yang hilang dari perairan Raja Ampat.

Bukan sekadar kehilangan dalam artian fisik, di mana satu, dua, atau sepuluh individu sirna dari pengamatan. Tapi kehilangan yang lebih dalam. Kehilangan yang membuat sebuah spesies menjadi hantu di rumahnya sendiri.

Hiu zebra, atau Stegostoma tigrinum, dulunya adalah penghuni yang akrab di perairan Papua Barat Daya ini. Mereka berenang di antara 75 persen spesies terumbu karang global yang hidup di jantung Segitiga Terumbu Karang dunia. Mencari makan. Berkembang biak. Menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem yang menjadikan Raja Ampat sebagai surga bawah laut.

Tapi kemudian, manusia datang dengan bom dan jaring.

Selama beberapa tahun terakhir, praktik pengeboman dan perburuan telah menggerogoti populasi hiu yang ditemukan di wilayah Indo-Pasifik ini. Sirip mereka dicari untuk sup. Kulit mereka dijadikan aksesoris. Daging mereka dikonsumsi.

Lembaga konservasi Conservation International mencatat angka yang mencengangkan: dalam 15.000 jam pengamatan terumbu karang selama dua dekade (2001-2021), hanya tiga individu hiu zebra yang terlihat.

Tiga. Dari jutaan hektare perairan.

Para pakar yang terlibat dalam Proyek Stegostoma tigrinum Augmentation and Recovery (StAR) memprakirakan tersisa hanya 20 individu yang tersebar di 6 juta hektare wilayah Kepulauan Raja Ampat. Angka itu menempatkan hiu zebra dalam status yang menyedihkan: dianggap punah secara fungsional di wilayah ini.

Punah secara fungsional berarti mereka masih ada, tapi jumlah mereka terlalu sedikit untuk menjalankan peran ekologis yang seharusnya. Terlalu sedikit untuk berkembang biak secara alami. Terlalu sedikit untuk dikenang oleh generasi mendatang.

Rumah mereka melupakan mereka. Dan generasi baru anak-anak Papua hampir tak pernah mengenal sosok makhluk laut yang elegan ini.

Perempuan Papua yang Mengingat

Yolanda Wamaer tidak ingin membiarkan kepunahan itu terjadi dalam diam.

Perempuan asli Papua ini adalah edukator konservasi di ReShark, salah satu inisiator Proyek StAR. Dari Raja Ampat Research and Conservation Center (RARCC) di Pulau Kri, ia menjadi jembatan antara sains konservasi dan masyarakat lokal, khususnya anak-anak yang akan mewarisi laut ini.

Bagi Yolanda, kehilangan hiu zebra bukan sekadar kehilangan satu spesies. Ini adalah kehilangan narasi. Kehilangan bagian dari identitas laut Papua.

"Bahwa sebelum adanya konservasi, hewan-hewan laut, khususnya hiu di sini, banyak masyarakat yang mengonsumsi," katanya dengan nada yang hati-hati, tanpa menghakimi. "Jadi, kita ingin agar hal-hal demikian tidak berdampak terus ke anak-anak yang masih usia belia. Jadi, harus sebisa mungkin kita edukasikan agar kegiatan tersebut tidak merusak lagi."

Ia memulai dari hal sederhana: mengajak anak-anak sekolah berkeliling ke nursery, tempat penangkaran hiu zebra di Pulau Kri dan Misool Selatan. Membiarkan mata mereka berbinar melihat anakan hiu yang berenang dengan anggun. Menanamkan rasa kagum sebelum menjelaskan pentingnya menjaga.

Edukasi juga ia bawa ke kampung-kampung di sekitar nursery. Kepada nelayan, ia jelaskan bahwa hiu zebra bukan sekadar santapan atau komoditas. Mereka adalah predator kunci. Indikator kesehatan lingkungan. Penjaga keseimbangan ekosistem yang juga menopang kehidupan manusia.

Meski baru tahap awal, dampak edukasi mulai terasa. Beberapa masyarakat kampung kini melaporkan ketika menemukan hiu zebra, bahkan mengingatkan warga lain untuk tidak menangkapnya. Banyak dari mereka mengetahui pentingnya menjaga hiu zebra dari anak-anak mereka sendiri, anak-anak yang pulang dari sekolah dengan cerita tentang hiu belimbing yang nyaris punah.

Gaung itu perlahan meluas. Dari satu kampung ke kampung lain. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Petualangan Telur yang Melintasi Samudra

Tapi edukasi saja tidak cukup untuk mengembalikan populasi yang nyaris lenyap.

Dengan hanya tiga individu yang terdeteksi di perairan Raja Ampat, repopulasi secara alami hampir mustahil. Untuk itu, dimulailah sebuah petualangan yang tidak biasa: mendatangkan telur hiu zebra dari akuarium mitra di Australia dan Amerika.

Annisa Fathya, akuaris di ReShark, menjelaskan bahwa pengiriman telur pertama dilakukan pada 2020. Telur-telur itu, berwarna cokelat dengan tekstur kasar, melintasi lautan dalam perjalanan yang penuh harapan.

Begitu tiba di Raja Ampat, telur-telur itu dijaga dengan cermat hingga menetas. Kemudian dimulailah fase yang krusial: anakan hiu zebra "bersekolah" di kandang laut.

Di sana, mereka belajar mencari makan. Menguji insting liar mereka. Mempersiapkan diri untuk bertahan hidup sendiri ketika saatnya tiba untuk kembali ke laut lepas, ke rumah yang nyaris melupakan mereka.

Proses ini membutuhkan kesabaran. Bayi hiu yang baru lahir berukuran 30 hingga 60 sentimeter pada usia dua pekan hingga dua bulan. Mereka harus tumbuh hingga rata-rata 100 sentimeter, biasanya pada usia 7-8 bulan, sebelum dianggap siap untuk dilepasliarkan.

Sebelum dilepas, setiap individu dipasangi penanda untuk memantau pergerakan mereka. Ini bukan sekadar pelepasan. Ini adalah pemulangan yang dikawal dengan sains dan harapan.

Hingga 21 Januari 2026, sudah 57 individu hiu zebra dilepasliarkan kembali ke perairan Raja Ampat.

Pelepasliaran individu ke-57, yang diberi nama Morin, menjadi istimewa karena dilakukan langsung oleh Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu. Sebuah simbol bahwa kepulangan hiu zebra bukan hanya urusan konservasi, tapi juga komitmen pemerintah dan masyarakat Papua.

Memulihkan Rumah, Bukan Hanya Penghuninya

Meizani Irmadhiany, Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, menegaskan bahwa pemulihan hiu zebra memerlukan pendekatan jangka panjang yang didasarkan pada sains.

"Pemulihan populasi hiu zebra membutuhkan waktu panjang dan tidak bisa mengandalkan perlindungan kawasan saja," katanya.

Artinya, tidak cukup hanya menetaskan telur dan melepaskan anakan. Habitat mereka, rumah yang mereka pulang, juga harus dipulihkan dan dilindungi.

Di sinilah tantangan baru muncul.

Raja Ampat yang indah juga menarik perhatian wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Kapal-kapal wisata berdatangan, membawa rezeki bagi masyarakat lokal, tapi juga ancaman bagi terumbu karang.

Jangkar kapal yang dilemparkan sembarangan dapat merusak karang di dasar laut. Dan ketika karang rusak, ekosistem runtuh. Habitat hiu zebra, dan spesies laut lainnya, terancam.

Untuk mengatasi ini, Konservasi Indonesia bekerja sama dengan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat memasang mooring, tambat labuh untuk kapal-kapal wisata. Semacam "tempat parkir" di laut agar kapal tidak perlu menjangkar di atas terumbu karang.

Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya juga telah mengeluarkan Surat Edaran Gubernur tentang wajib penggunaan mooring dan pembayaran retribusi. Aturan itu memastikan pengawasan dilakukan oleh BLUD UPTD bersama aparat terkait dan masyarakat adat, sementara penerimaan retribusi dikelola untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi.

Ini adalah pengakuan bahwa pariwisata dan konservasi harus berjalan beriringan. Bahwa kita bisa menikmati keindahan Raja Ampat tanpa menghancurkannya.

Kepulangan yang Belum Selesai

Kisah hiu zebra di Raja Ampat adalah kisah tentang kepulangan yang belum selesai.

Mereka pulang dari telur yang melintasi samudra. Pulang dari kandang laut yang mengajarkan mereka bertahan hidup. Pulang ke perairan yang hampir melupakannya.

Tapi kepulangan sejati hanya akan terjadi ketika populasi mereka pulih. Ketika mereka kembali berenang bebas dalam jumlah yang cukup untuk menjalankan peran ekologis mereka. Ketika anak-anak Papua bisa melihat mereka bukan di nursery, tapi di laut lepas, di rumah mereka yang sesungguhnya.

Untuk itu, diperlukan kerjasama semua pihak: lembaga konservasi, pemerintah, masyarakat lokal, wisatawan, dan siapa pun yang mencintai laut.

Karena habitat yang sehat akan menentukan keberlangsungan hidup hiu zebra dan spesies laut lain yang menjadikan Raja Ampat sebagai rumah dan ruang hidupnya.

Dan karena pada akhirnya, menyelamatkan hiu zebra bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies.

Ini tentang menyelamatkan rumah, rumah yang juga menjadi milik kita bersama.

Mereka Pulang

Di suatu sore di Pulau Kri, Yolanda berdiri di tepi dermaga, memandang laut yang berkilauan di bawah matahari. Di suatu tempat di sana, Morin, hiu zebra ke-57, berenang bebas, membawa harapan bagi spesiesnya.

"Mereka pulang," bisik Yolanda, setengah pada dirinya sendiri. "Dan kita harus memastikan rumah ini siap menyambut mereka."

Angin laut bertiup lembut, membawa aroma garam dan harapan.
Kepulangan hiu zebra baru saja dimulai.(*)

Terkini