Dewan HAM PBB: File Epstein Tunjukkan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

Rabu, 18 Februari 2026 | 17:01:51 WIB
Jonathan Raa/Sipa USA via ReutersSalinan cetak dokumen yang dirilis oleh Departemen Kehakiman AS sehubungan dengan kasus pengadilan yang melibatkan mendiang pengusaha dan terpidana pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein, terlihat dalam ilustrasi foto i

New York,sorotkabar.com – Jutaan berkas terkait dengan terpidana pelaku kejahatan seks anak Jeffrey Epstein menunjukkan adanya “jaringan kriminal global” yang melakukan tindakan yang memenuhi ambang batas hukum kejahatan terhadap kemanusiaan. Demikian ungkap panel ahli independen yang ditunjuk oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB. 

Para ahli mengatakan kejahatan yang diuraikan dalam dokumen yang dikeluarkan oleh departemen kehakiman AS dilakukan dengan latar belakang keyakinan supremasi, rasisme, korupsi, dan kebencian terhadap wanita yang ekstrim. Kejahatan tersebut, kata mereka, menunjukkan komodifikasi dan dehumanisasi terhadap perempuan dan anak perempuan.

“Betapa seriusnya skala, sifat, karakter sistematis, dan jangkauan transnasional dari kekejaman terhadap perempuan dan anak perempuan, sehingga beberapa dari mereka mungkin memenuhi ambang batas hukum kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata mereka dalam sebuah pernyataan, dikutip Reuters pada Rabu.

Para ahli mengatakan tuduhan yang terkandung dalam berkas tersebut memerlukan penyelidikan yang independen, menyeluruh dan tidak memihak. Mereka juga mengatakan penyelidikan juga harus dilakukan mengenai bagaimana kejahatan semacam itu bisa dilakukan dalam waktu yang begitu lama. 

Departemen Kehakiman AS tidak segera menanggapi permintaan komentar oleh Reuters. Sebuah undang-undang, yang disetujui oleh Kongres dengan dukungan bipartisan yang luas pada bulan November, mengharuskan semua dokumen terkait Epstein dipublikasikan.

Dalam dokumen yang dibuka belakangan, terungkap jejaring hubungan pengusaha Yahudi tersebut dengan tokoh-tokoh terkemuka di berbagai negara. Dokumen-dokumen itu telah memicu goncangan politik setidaknya di AS, Inggris, Norwegia, dan India.

Dalam email-emailnya yang dibocorkan, Epstein bersama rekan-rekan Yahudinya kerap menggunakan istilah merendahkan “goyim” untuk orang-orang non-Yahudi. Perempuan dan anak-anak digambarkan sebagai komoditas dalam dokumen-dokumen itu. 

Epstein yang terungkap punya hubungan erat dengan mantan perdana menteri Israel Ehud Barak juga kerap berkomunikasi soal rekayasa politik di berbagai negara. Dalam salah satu rekaman yang dibocorkan, mereka bicara soal upaya pemindahan jutaan warga Rusia ke Israel untuk mengubah demografi di entitas Zionis itu menghadapi pertumbuhan komunitas Arab dan Yahudi dari Timur Tengah.

Para ahli PBB juga menyuarakan keprihatinan tentang “kegagalan kepatuhan yang serius dan kesalahan redaksi” yang mengungkap informasi sensitif korban. Lebih dari 1.200 korban teridentifikasi dalam dokumen yang telah dirilis sejauh ini. 

“Keengganan untuk mengungkapkan informasi sepenuhnya atau memperluas penyelidikan telah membuat banyak penyintas merasa trauma dan menjadi sasaran apa yang mereka gambarkan sebagai ‘gaslighting institusional’,” kata para ahli. 

Rilis dokumen tersebut oleh Departemen Kehakiman telah mengungkap hubungan Epstein dengan banyak orang terkemuka di bidang politik, keuangan, akademisi dan bisnis – baik sebelum dan sesudah dia mengaku bersalah pada tahun 2008 atas tuduhan prostitusi, termasuk merayu seorang gadis di bawah umur. 

Dia ditemukan tewas di sel penjaranya pada tahun 2019 setelah ditangkap lagi atas tuduhan federal atas perdagangan seks anak di bawah umur. Kematiannya dinyatakan sebagai bunuh diri, meski kecurigaan bahwa ia dibunuh terus mengemuka.(*) 
 

Terkini