Teheran,sorotkabar.com - Komandan tertinggi angkatan laut Iran menyatakan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akan mempertahankan dominasi intelijen di Selat Hormuz selama 24 jam penuh.
Pernyataan itu ditegaskan IRGC di tengah pelaksanaan latihan militer di jalur pelayaran strategis tersebut, Senin (16/2/2026).
Kepala Angkatan Laut IRGC Laksamana Muda Alireza Tangsiri mengatakan pengawasan dilakukan secara menyeluruh, mencakup permukaan laut, udara, hingga bawah permukaan.
Ia menyebut pengawasan tersebut bertujuan menjamin keselamatan pelayaran di Selat Hormuz, yang setiap hari dilalui lebih dari 80 kapal tanker minyak dan kapal kontainer. Padatnya selat menjadikannya salah satu jalur perdagangan maritim tersibuk di dunia.
"Latihan militer berlangsung di Teluk Persia dan Selat Hormuz, dengan pulau-pulau di kawasan tersebut berfungsi sebagai 'benteng pertahanan' yang berada di bawah tanggung jawab penuh Angkatan Laut IRGC," ujarnya dikutip media pemerintah.
Ia menjelaskan latihan itu merupakan agenda tahunan rutin, dengan fokus pada manuver taktis serta penggunaan peralatan tertentu yang sebagian belum diumumkan ke publik. “Respons cepat dan tegas terhadap ancaman keamanan maritim menjadi inti latihan ini,” ujarnya.
Tangsiri juga menyatakan unit respons cepat Angkatan Laut IRGC secara berkala berlatih melakukan intervensi, inspeksi, hingga penyitaan kapal yang dinilai tidak memiliki izin di perairan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Sebelumnya pada Senin pagi, IRGC mengumumkan dimulainya latihan bertajuk Pengendalian Cerdas Selat Hormuz di bawah pengawasan Panglima IRGC Mayor Jenderal Mohammad Pakpour.
IRGC menyebut latihan tersebut bertujuan menguji kesiapan operasional, skenario pengamanan, serta respons militer terhadap potensi ancaman di kawasan Selat Hormuz, sekaligus mengevaluasi posisi geopolitik Iran di Teluk Persia dan Laut Oman.
Latihan itu digelar di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, menyusul penguatan kehadiran militer AS di kawasan.
Presiden AS Donald Trump pada Jumat mengumumkan rencana pengerahan kapal induk kedua ke Timur Tengah, melengkapi keberadaan USS Abraham Lincoln dan sejumlah kapal perusak.
Meski demikian, Teheran dan Washington dijadwalkan melanjutkan perundingan nuklir tidak langsung di Jenewa pada Selasa, dengan mediasi Oman. Diplomasi tersebut kembali berjalan setelah sempat terhenti hampir delapan bulan akibat eskalasi militer yang dipicu serangan Israel terhadap Iran.(*)