Dzakirah, Korban Tabrak Mundur Kendaraan Operasional Sampah Pemkab Kuansing yang Tak Dipedulikan

Selasa, 03 Februari 2026 | 22:56:36 WIB
Allysa Dzakirah Nabila saat mendapat perawatan medis usai kejadian

Kuansing,sorotkabar.com - Sudah 2 bulan berlalu, Allysa Dzakirah Nabila (8), menjadi korban tabrak mundur salah satu kendaraan operasional sampah milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.

Dzakirah, nama panggilannya. Ia kini duduk di bangku kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Kuansing atau MIN Pangean. Ia anak ketiga dari buah pernikahan, Wannur Wati (41) dan Ison (45). Domisili Desa Pasarbaru Pangean. Kini, Dzakirah harus menjalani keseharian hidup dengan fisik yang tak lagi normal.

Sekitar 17 Desember 2025 lalu, Allysa Dzakirah Nabila, sedang pergi beli nasi untuk makan siang di dekat lapangan Limuno Teluk Kuantan bersama anak SMK yang tengah magang di kantor ayahnya. Saat sedang belanja. Tiba-tiba sebuah mobil pengangkut sampah milik Pemkab Kuansing mundur persis mengarah ke anak-anak itu. Sehingga membuat mereka terkejut sambil berteriak.

Dari penuturan sang ibu, Wannur Wati, saat mobil mundur, anak-anak ini sempat berteriak. Namun teriakan mereka tak terdengar oleh sang sopir. Kejadiannya persis di depan sebuah cafe dekat pedagang jualan air kelapa muda. Sebelahya ke pasar lumpur Teluk Kuantan.

Usai kejadian, kata Wannur Wati, putri semata wayangnya ini langsung dibawa ke klinik terdekat untuk mendapat penanganan medis. Dzakirah dibawa ke Duta Klinik Medika. Tak jauh dari tempat kejadian.

"Waktu hasil ronsen partamo, tulang bahu anak kami tu terlepas dan tulang sikunya retak," ungkap Wati  Senin (2/2/2026).

Selama 2 bulan itu, Dzakirah merasakan nyeri di bahu dan lengan sebelah kiri. Tulangnya patah. Kini, tangannya tak lagi normal seperti semula. Sementara, sang ibu dan ayah tersayang tak henti mengadu kesana kemari.

"Kini kondisi tangan anak singkual (bengkok), tak bisa lurus kembali seperti semula," ungkap sang ibu.

Sejak kejadian hingga kini, Wati, panggilan ibunya, terus berjuang untuk menuntut pertanggungjawaban dari pihak terkait. Dalam hal ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kuansing, sebagai penanggungjawab operasional kendaraan pengangkut sampah. Meski perjuangannya tak membuahkan hasil.

Kini, Wati dan suaminya mengaku pasrah. Tak tahu kemana lagi dirinya mengadu. Karena setiap menemui pihak dinas sebagai penanggungjawab kendaraan dinas operasional sampah itu, selalu tak ada kepastian.

"Sudah macam pengemis kami datang kian kemari minta tolong pertanggungjawaban, tapi dari janji ke janji aja. Datang kian kamari la macam pengemis tapi sampai kini tak ada sedikitpun hasil. Tak ada sedikitpun pertanggungjawaban mereka," ungkap Wati kesal.

Hari terus berlalu. Dzakirah tak jua mendapat perhatian dari pihak yang bertanggungjawab. Terkesan diabaikan. Tak dipedulikan. Wati mengaku putus asa karena perjuangannya untuk memulihkan anaknya supaya fisiknya kembali normal tak membuahkan hasil.

"Kami meminta pertanggungjawaban. Tapi, tak jua didapat. Sudah putus asa rasanya. Sudah macam pengemis kami, tapi tak juga ada respon. Janji ke janji. Alasannya duit tidak ada," keluhnya lagi.

Kendati demikian, Wati tak mengaku berputus asa akan nasib anaknya. Ia mendoakan agar sang anak kuat dan tetap semangat dengan kondisi apapun.

"Insya Allah, Dzakirah kuat. Ayah ibu dan abang-abang akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Dzakirah," ucapnya sambil menyeka air matanya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kuansing, Dodi Fitriawan yang dikonfirmasi, Selasa (3/2/2026), tidak memberikan penjelasan.

Ia mempersilahkan dihubungi Kepala Bidang Persampahan DLH Kuansing, Hardiman. Saat dikonfirmasi, Hardiman pun tak membalas.(*) 
 

Terkini