Trump Sebut Armada AS Berkekuatan Besar Sedang Menuju Iran

Jumat, 23 Januari 2026 | 23:14:21 WIB
Dok Angkatan Laut ASKapal induk USS Abraham Lincoln. Kapal pembawa pesawat tempur itu dilaporkan tiba di Timur Tengah pada Akhir Januari 2026.

Davos,sorotkabar.com– Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Kamis bahwa negaranya tengah mengirimkan armada berkekuatan besar yang sedang menuju Iran. Ia tak menutup kemungkinan armada tersebut akan melakukan serangan.

"Anda tahu, kami punya banyak kapal yang menuju ke arah itu, untuk berjaga-jaga. Kita punya armada besar (yang menuju) ke arah itu, dan kita lihat saja apa yang akan terjadi," kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan ke Washington, DC dari Davos, Swiss. 

“Kami memiliki kekuatan besar yang menuju Iran. Saya lebih suka tidak melihat apa pun terjadi,” tambahnya dilansir Anadolu. Trump mengatakan AS mengawasi Iran dengan sangat cermat. 

"Kami punya armada. Kita punya armada masif yang menuju ke sana, mungkin tidak perlu kita pakai. Kita lihat saja nanti," tegasnya.

Perkembangan ini terjadi setelah ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran sebagai tanggapan atas penanganannya terhadap protes baru-baru ini yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi. Iran didera krisis ekonomi tersebut menyusul bertahun-tahun sanksi Barat yang dilancarkan dengan dalih mencegah Iran memiliki senjata nuklir

Belakangan ia melunakkan ancaman tersebut meski armada militer AS terus berlayar menuju perairan Timur Tengah. 

Kapal induk AS USS Abraham Lincoln saat ini jadi ujung tombak melanjutkan perjalanannya menuju kawasan Timur Tengah, dengan perkiraan kedatangannya dalam beberapa hari ke depan. The Washington Post mengutip para pejabat Angkatan Laut AS yang mengatakan bahwa kapal induk tersebut saat ini berada di Samudera Hindia, dan diperkirakan akan memasuki wilayah tersebut dalam beberapa hari. 

Berdasarkan data pelacakan kapal, kapal induk AS yang ditempatkan di Laut China Selatan selama beberapa hari terakhir, melintasi Selat Malaka pada Selasa, jalur perairan strategis yang menghubungkan Laut China Selatan dengan Samudera Hindia. 

Menurut laporan Newsweek dan citra pengintai kapal di Singapura, USS Abraham Lincoln berlayar diam-diam pada malam hari, meninggalkan Laut Cina Selatan menuju Samudera Hindia. Kapal ini diperkirakan tiba di kawasan Timur Tengah dalam waktu sekitar 72 jam hingga satu minggu.

Kapal induk ini mematikan sistem pelacak otomatis (AIS) saat memasuki Samudera Hindia. Lngkah itu biasa dilakukan dalam operasi militer sensitif.

USS Abraham Lincoln juga dikawal oleh beberapa kapal perusak, serta membawa jet-jet tempur sebagai bagian dari kekuatan serangan laut AS. Di saat bersamaan, 12 jet tempur F-15 AS dilaporkan mendarat di Yordania.

Pesawat kargo militer juga tiba di pangkalan AS di Diego Garcia. Pesawat-pesawat ini disebut membawa sistem pertahanan rudal Patriot untuk melindungi pangkalan dan aset Amerika di kawasan Teluk. Analis militer menilai, dalam 5–6 hari, AS bisa punya kesiapan penuh untuk operasi militer besar.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah memperingatkan Amerika Serikat bahwa Teheran akan membalas dengan segala yang mereka miliki jika kembali mendapat serangan. Peringatan Araghchi muncul dalam artikel opini yang diterbitkan loleh The Wall Street Journal pada Selasa.

“Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak punya keraguan untuk membalas dengan segala yang kami miliki jika kita mendapat serangan baru,” tulisnya, merujuk pada perang 12 hari yang dilancarkan Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu. 

Menteri luar negeri berargumentasi bahwa hal ini bukanlah sekadar ancaman. “Tetapi sebuah kenyataan yang saya rasa perlu saya sampaikan secara eksplisit, karena sebagai seorang diplomat dan veteran, saya membenci perang”. 

Dia menambahkan bahwa konfrontasi yang timbul dari serangan ke Iran akan sangat ganas dan berlarut-larut. “Jauh lebih lama dari jangka waktu yang dibayangkan Israel dan proksinya ke Gedung Putih. Konfrontasi ini pasti akan melanda wilayah yang lebih luas dan berdampak pada masyarakat umum di seluruh dunia".

Sebelumnya pada hari Selasa, sebagai tanggapan terhadap ancaman yang dihadapi Ayatollah Ali Khamenei, Jenderal Iran Abolfazl Shekarchi dikutip mengatakan bahwa Trump sudah tahu bahwa Teheran tidak akan menahan diri jika keadaan berbalik.

“Trump tahu bahwa jika ada agresi yang diulurkan kepada pemimpin kami, kami tidak hanya akan memutuskan tangan tersebut, dan ini bukan sekadar slogan,” media pemerintah Iran melaporkan, mengutip Shekarchi.  "Kami akan membakar dunia mereka dan tidak meninggalkan tempat yang aman bagi mereka di kawasan ini.”(*) 
 

Terkini