Toko-Toko di Iran Tetap Buka Tapi Terpaksa Tutup Sebelum Malam Hari

Senin, 12 Januari 2026 | 21:58:40 WIB
Fars News Agency via APPara pengunjuk rasa berbaris di pusat kota Teheran, Iran, Senin, 29 Desember 2025.

Teheran,sorotkabar.com- Sebagian besar toko di perkotaan Iran tetap buka setiap hari, tetapi terpaksa tutup sebelum malam hari di tengah protes, yang disertai dengan kerusuhan dan bentrokan antara demonstran dan polisi di beberapa kota. Seperti dilaporkan koresponden RIA Novosti, sebagai contoh, pada Sabtu (10/1/2026), hampir semua toko di Teheran tutup sebelum pukul 18.00 (waktu setempat).

Situasi di sejumlah kota masih tegang. Akibat kerusuhan tersebut, kebakaran terjadi di sebuah pasar tua di Kota Rasht, Ibu Kota Provinsi Gilan di barat laut negara itu. Pasar tersebut hampir hancur total, dengan laporan awal menyebutkan adanya korban jiwa.

Pada Sabtu, Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, merilis sebuah video di X yang menyerukan rakyat Iran untuk berunjuk rasa dan menyarankan agar para demonstran bersiap merebut dan menguasai jalanan dan sejumlah fasilitas strategis.

Protes meletus di Iran pada akhir Desember 2025 di tengah kekhawatiran terhadap meningkatnya inflasi yang dipicu oleh melemahnya mata uang lokal, rial Iran. Para pengunjuk rasa mengeluhkan fluktuasi nilai tukar yang menyebabkan kenaikan harga grosir dan eceran.

Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad-Reza Farzin, mengundurkan diri dan digantikan oleh Abdolnaser Hemmati. Sejak Kamis (8/1/2026), protes semakin intensif menyusul seruan Pahlavi.

Sejumlah video di media sosial menunjukkan demonstrasi besar-besaran dan meluas. Pada hari yang sama, internet di Iran mengalami gangguan. Di beberapa kota di Iran, protes berubah menjadi bentrokan dengan polisi. Para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik pemerintah. Korban jiwa dilaporkan tercatat di antara pasukan keamanan dan demonstran. 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump seperti dilaporkan Wall Street Journal (WSJ) akan menerima pengarahan pada Selasa (13/1/2026) terkait kemungkinan merespons demonstrasi di Iran lewat serangan militer. Dilansir TRT, Senin (12/1/2026), arahan untuk Trump akan mengeksplorasi sejumlah opsi mulai dari sanksi, tindakan siber, hingga aksi militer, meski keputusan akhir belum tentu diambil pada rapat besok.

Menurut pejabat Gedung Putih dikutip WSJ, Menter Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Kepala Staf Gabungan AS diperkirakan akan menghadiri rapat dengan Trump besok. Sementara seorang pejabat senior militer dikutip New York Times mengatakan, para komandan akan mengatakan kepada Trump bahwa pasukan mereka butuh tambahan waktu persiapan sebelum serangan militer dilancarkan, termasuk mengonsolidasikan posisi alutsista dan menguatkan sistem pertahanan guna merespons serangan balik Iran.

Sejumlah pejabat AS juga mengingatkan bahwa aksi militer bisa mengakibatkan konsekuensi tak diinginkan, termasuk "menyatukan" rakyat Iran di belakang pemerintah atau memicu serangan balik Iran ke sejumlah pangkalan milter AS di Timur Tengah.

Setidaknya ada dua senator AS yang menyuarakan peringatan lewat wawancara di jaringan televisi pada Ahad. "Saya tidak tahu apakah mengebom Iran akan memunculkan efek yang diinginkan," kata senator Rand Paul kepada ABC News.

Sementara senator Mark Warner menilai, alih-alih melemahkan rezim, serangan militer malah bisa 'menyatukan' rakyat Iran melawan AS. Padahal, rezim Iran saat ini, menurut Warner, tidak mampu menyatukan seluruh elemen rakyat, terbukti lewat demonstrasi di berbagai kota akibat kondisi buruknya ekonomi dalam negeri.

Warner mengingatkan, sejarah telah menunjukkan bahaya dari intervensi AS, di mana penggulingan pemerintah Iran yang didukung AS pada 1953 menciptakan efek berantai yang berujung pada kemunculan rezim Republik Islam Iran pada akhir 1970.(*) 
 

Terkini