Jakarta,sorotkabar.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mendukung percepatan implementasi biodiesel, khususnya program B50, sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengatakan, penerapan B50 berpotensi memberikan dampak besar terhadap penghematan devisa negara, terutama dari penurunan impor solar.
Menurutnya, implementasi program tersebut dapat menghemat devisa hingga sekitar Rp 172 triliun.
“B50 dapat menghemat devisa sekitar Rp 172,35 triliun melalui penurunan impor solar,” ujar Eddy dalam acara Investortrust Power Talk di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Ia menjelaskan, kebutuhan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) untuk mendukung program B50 diperkirakan mencapai 18,6 juta kiloliter.
“Dibutuhkan sekitar (CPO sebanyak) 18,6 juta kiloliter,” ungkapnya.
Dengan penerapan penuh B50 selama satu tahun, permintaan CPO domestik diproyeksikan meningkat sekitar 3 juta ton. Kenaikan ini dinilai menjadi peluang bagi industri sawit nasional untuk menyerap produksi dalam negeri secara lebih optimal.
Pada sisi lain, tingginya harga energi global, khususnya minyak bumi dan solar, turut mendorong percepatan implementasi biodiesel. Dalam kondisi tersebut, penggunaan bahan bakar berbasis nabati dinilai lebih ekonomis sekaligus strategis.
Eddy melanjutkan, dari sisi pasokan, produksi CPO nasional saat ini dinilai masih cukup untuk mendukung kebutuhan dalam negeri.(*)