2 Benda Mirip Rudal Nyasar RI, Media Australia: Sensor Mata-mata China

2 Benda Mirip Rudal Nyasar RI, Media Australia: Sensor Mata-mata China
Benda mirip torpedo diamanakn polisi di perairan Lombok, NTB (AFP/AFP)

Jakarta,sorotkabar.com - Dua buah perangkat besar berbentuk torpedo atau rudal yang ditemukan di perairan strategis Selat Lombok dan Selat Makassar memicu perhatian serius aparat dan analis pertahanan. Benda pertama sepanjang sekitar 3,7 meter itu pertama kali ditemukan nelayan di utara Pulau Gili Trawangan, sebelum akhirnya diamankan oleh TNI Angkatan Laut untuk diteliti lebih lanjut.

Lalu benda asing kedua berbentuk silinder panjang menyerupai rudal menggegerkan nelayan di perairan Kepulauan Tanakeke, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan

Perangkat tersebut langsung dievakuasi ke pangkalan TNI Angkatan Laut di Mataram dan Makassar. Pihak militer menyatakan proses identifikasi masih berlangsung guna memastikan asal-usul, fungsi, serta kemungkinan data yang tersimpan di dalamnya.

Juru bicara TNI AL Laksamana Muda Tunggul menegaskan pihaknya belum menarik kesimpulan. “Kami akan melakukan pemeriksaan mendalam untuk mengidentifikasi perangkat ini, termasuk asal, tujuan, dan data yang mungkin tersimpan,” ujarnya dilansir dari ABC News.

Laporan media Australia ABC News, sejumlah analis pertahanan maritim menduga benda tersebut merupakan sistem sensor bawah laut yang mampu mengirimkan data secara realtime. Analis HI Sutton mengidentifikasinya sebagai sistem tambat laut dalam yang dikembangkan lembaga riset di China, yang berfungsi memantau kondisi bawah laut sekaligus aktivitas kapal di sekitarnya.

Perangkat semacam ini diketahui dilengkapi sensor untuk membaca suhu, kedalaman, arus, hingga informasi akustik yang dapat digunakan mendeteksi pergerakan kapal, termasuk kapal selam. Sistem tersebut bekerja dengan cara ditambatkan di dasar laut dan mengirimkan data melalui pelampung komunikasi di permukaan.

Meski demikian, pemerintah China membantah kekhawatiran yang berkembang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan tidak ada hal mencurigakan dan menyebut peralatan riset kelautan dapat saja hanyut ke wilayah negara lain akibat kerusakan atau faktor alam. “Tidak perlu ada interpretasi atau kecurigaan berlebihan,” ujarnya.

Pengamat keamanan maritim menilai perangkat tersebut memiliki potensi penggunaan ganda, baik untuk kepentingan ilmiah maupun militer. “Teknologi seperti ini memang sering berada di wilayah abu-abu antara riset dan kepentingan pertahanan,” kata Collin Koh, peneliti senior di Singapura.

Selat Lombok sendiri merupakan jalur laut vital yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik. Dengan kedalaman mencapai ratusan meter, jalur ini kerap dilalui kapal besar dan juga memiliki nilai strategis bagi pergerakan militer, termasuk kapal selam.

Dalam konteks geopolitik, keberadaan perangkat pemantau di wilayah ini dinilai dapat memberikan keunggulan informasi bagi pihak tertentu, khususnya dalam memahami kondisi bawah laut dan lalu lintas maritim.

Namun, aspek legalitas keberadaan perangkat tersebut masih menjadi perdebatan. Dalam hukum internasional, belum ada kejelasan apakah perangkat seperti itu dapat dikategorikan sebagai “kapal” yang memiliki hak lintas di perairan negara lain.

Pemerintah Indonesia menegaskan akan menangani temuan ini secara hati-hati dan terukur. Kementerian Pertahanan menyatakan proses verifikasi masih berjalan dan meminta publik tidak berspekulasi sebelum hasil resmi diumumkan.

“Pendalaman teknis masih dilakukan. Kami tidak ingin menarik kesimpulan prematur,” ujar Kepala Biro Informasi Kemenhan Brigjen Rico Sirait dikutip dari ABC News.(*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index