Mendikdasmen Resmikan Sekolah Hasil Revitalisasi di Aceh

Mendikdasmen Resmikan Sekolah Hasil Revitalisasi di Aceh
Foto: dok. Kemendikdasmen Abdul Mu'ti meresmikan sekolah hasil Program Revitalisasi Satuan Pendidikan di Aceh

Jakarta, sorotkabar.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti meresmikan sekolah hasil Program Revitalisasi Satuan Pendidikan di Aceh sebagai bagian dari pemulihan layanan pendidikan pasca bencana.

Secara terpusat, peresmian tersebut berlokasi di SD Negeri 12 Bintang Kabupaten Aceh Tengah dan SMA Negeri 1 Baktiya Kabupaten Aceh Utara.
Di SD Negeri 12 Bintang, Abdul Mu'ti secara simbolis meresmikan 53 satuan pendidikan yang tersebar di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.

Program ini bertujuan untuk memulihkan infrastruktur pendidikan pasca banjir bandang dan longsor di wilayah dataran tinggi Gayo.

"Sekolah harus kembali menjadi tempat belajar yang aman dan nyaman. Karena itu, revitalisasi tidak hanya menyasar bangunan fisik, tetapi juga memastikan keberlanjutan layanan pendidikan," ujar Abdul Mu'ti dalam keterangan tertulis, Rabu (3/2/2026).

Dalam kunjungan itu, Abdul Mu'ti meninjau langsung sejumlah sekolah terdampak bencana yang masih melaksanakan pembelajaran di ruang darurat. Ia menegaskan pemerintah akan merelokasi sekolah yang berada di zona rawan bencana, serta mempercepat pembangunan fasilitas pendidikan baru.

Terkait kondisi SMP Negeri 22 Takengon Kabupaten Aceh Tengah yang rusak berat dan telah beberapa kali tertimpa longsor, Abdul Mu'ti menyatakan bahwa bangunan sekolah tersebut sudah tidak memungkinkan untuk digunakan. Pemerintah pusat telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk merelokasi sekolah ke lokasi baru.

"Insyaallah, sekolah tersebut akan mendapatkan bantuan pembangunan Unit Sekolah Baru pada tahun 2026," sambungnya.

Sementara itu, SD Negeri 12 Bintang yang terkena longsor di bagian belakang bangunan, pun akan diberikan bantuan tambahan berupa pembangunan ruang kelas baru.

Selain di Aceh Tengah, Abdul Mu'ti turut meresmikan 23 satuan pendidikan yang terpusat di SMA Negeri 1 Baktiya Kabupaten Aceh Utara. Sekolah-sekolah tersebut menjadi bagian dari program rehabilitasi satuan pendidikan terdampak bencana yang dibangun berdasarkan standar keselamatan bangunan dan kebutuhan pembelajaran.

Hingga saat ini, melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2025, sebanyak 36 sekolah di Kabupaten Aceh Tengah dan 17 sekolah di Kabupaten Bener Meriah telah rampung dibangun dan siap digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Abdul Mu'ti juga mendorong modernisasi pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi. Sekolah penerima Papan Interaktif Digital (PID) akan diperkuat dengan dukungan konektivitas internet, termasuk layanan berbasis satelit untuk menjangkau wilayah pegunungan dan daerah terpencil. Pemerintah pun konsisten dalam mengupayakan pemenuhan fasilitas pendukung, termasuk ruang guru dan rumah dinas guru.

Adapun dampak dari revitalisasi ini dirasakan langsung oleh satuan pendidikan penerima manfaat. Kepala SLB Negeri Silih Nara Angkup Takengon, Yusbida, menuturkan, sebelumnya sekolahnya mengalami kekurangan ruang kelas serta fasilitas pendukung.

"Saya berharap, program Revitalisasi Satuan Pendidikan dapat terus berlanjut agar semakin banyak sekolah di daerah memperoleh lingkungan belajar yang layak," tuturnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Timang Gajah Bener Meriah, Marhamah, mengungkapkan kondisi rumah ibadah sekolah dan laboratorium IPA telah rusak sehingga tidak dapat dimanfaatkan.

"Apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Mendikdasmen atas perhatian dan dukungan pemerintah (merehabilitasi sekolah) karena manfaatnya dirasakan nyata," ungkapnya.

Sejalan dengan upaya revitalisasi tersebut, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kemendikdasmen terus mempercepat pemulihan pendidikan melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan 2026. Sebanyak 114 sekolah (99 SMK, 13 SLB, dan 2 PKBM) terdampak bencana di Aceh telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) sebagai dasar pelaksanaan program.

Penandatanganan ini secara simbolik disaksikan langsung oleh Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK), Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, serta Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK Tatang Muttaqin menilai penandatanganan PKS sebagai langkah nyata rekonstruksi dan pemulihan pendidikan di Aceh.

"Apa yang telah ditandatangani hari ini adalah dokumen awal kebahagiaan bagi orang-orang sekitar kita, para siswa, orang tua, dan seluruh warga sekolah di tempat Bapak Ibu untuk mengembalikan kondisi sekolah yang insyaallah lebih nyaman dan tentunya aman bagi seluruh warga sekolah," terang Tatang.

Ia berharap dokumen yang telah ditandatangani tersebut digunakan secara sungguh-sungguh sebagai bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).

"Setelah penandatanganan ini, kemudian dana bantuan segera bisa cair sehingga bisa langsung dieksekusi. Kami berharap awal tahun ajaran baru, semoga anak-anak kita sudah bisa belajar dengan nyaman dan aman di sekolah yang baru," tambahnya.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, Dahlawi, menyebut penandatanganan PKS sebagai harapan baru bagi pendidikan rakyat Aceh.

"Revitalisasi ini membawa harapan baru bagi pendidikan Aceh. Dengan program Revitalisasi, kami berharap pendidikan di Aceh segera pulih dan pendidikan di Aceh ke depannya akan sama dengan daerah lainnya," kata Dahlawi.

Sementara itu, Kepala SMK Ummul Ayman 2 Kabupaten Pidie Jaya, Faisal, mengatakan bahwa sekolahnya menjadi salah satu yang segera direvitalisasi akibat bencana.

"Dengan revitalisasi ini kami berharap unit kelas baru bisa cepat terbangun dan siswa dapat belajar kembali dalam kondisi yang lebih nyaman," jelasnya.

Murid kelas 11 SMK Ummul Ayman 2, Alfrizi Maulana, mengaku sudah merindukan ruang belajar yang nyaman seperti sebelumnya. Selain terpaksa belajar di kelas darurat, ia juga tidak bisa melakukan pembelajaran praktik karena seluruh area praktikum rusak akibat banjir.

"Semoga unit kelas baru bisa segera dibangun dan kami bisa belajar kembali di ruang kelas yang nyaman dengan meja dan kursi," harapnya.

Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang Suprananta pun menyebut program ini menjadi kabar gembira bagi 260 muridnya yang sudah sangat ingin kembali ke sekolah.

"Sekolah kami memang sudah aktif kembali, tapi masih kelas darurat. Dengan PKS ini kami insyaallah bisa membangun kembali sekolah kami yang rusak parah karena bencana," pungkasnya.(*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index