Pekanbaru, sorotkabar.com - Badan Pusat Statistik Provinsi Riau mencatat daerah setempat mengalami inflasi tahunan pada Januari 2026 sebesar 4,43 persen.
Statistisi Ahli Madya BPS Riau, Fitri Hariyanti mengatakan kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya di mana di dalamnya terdapat emas memberikan inflasi sebesar 17,97 persen dibandingkan Januari 2025.
"Yang tinggi salah satu penyebabnya juga tarif listrik dalam kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik dan bahan bakar yang mengalami inflasi cukup tinggi 12,14 persen diikuti kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi 2,95 persen," katanya di Pekanbaru, Senin.
Dari inflasi 4,53 persen itu andil terbesar kelompok perawatan pribadi 1,2 persen, perumahan air listrik dan bahan bakar 1,45 persen dan makanan minuman dan tembakau 0,99 persen.
Hal tersebut membuat Riau berada secara nasional berada di peringkat ke-11 inflasi tertinggi.
Berdasarkan kelompok tersebut komoditas yang menyebabkan inflasi tertinggi pertama tarif listrik andil 1,37 persen, emas perhiasan 1,25 persen diikuti daging ayam ras, biaya perguruan tinggi dan ikan serai.
Sedangkan yang mengalami deflasi adalah cabai merah, kentang, jengkol, bawang putih dan sabun detergen bubuk.
Sementara itu secara bulanan Provinsi Riau mengalami deflasi 0,45 persen dan berada di peringkat lima terbawah secara nasional.
Berdasarkan kelompok pengeluaran yang inflasi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan sebesar 2,68 dengan andilnya 0,21 persen.
"Yang menyebabkan deflasi yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami penurunan yang signifikan yakni deflasi sebesar 2,06 dengan andil inflasi nya -0,68 persen," ungkapnya.
Berdasarkan komoditas penyebab inflasi Januari 2026 yakni emas perhiasan sebesar 0,20 persen diikuti ayam hidup, sepeda motor, bayam, tomat dan sawi.
Sedangkan penyebab deflasi Januari 2026 adalah cabai merah 0,74 persen dan lainnya cabai rawit, bawang merah, buncis angkutan udara dan telur ayam ras. (*)