Sampah Jadi Cuan, Mandalika Dorong Pariwisata Hijau Sirkular

Sampah Jadi Cuan, Mandalika Dorong Pariwisata Hijau Sirkular
Produk hasil daur ulang sampah. (Beritasatu.com/Muhammad Awaludin)

Lombok Tengah,sorotkabar.com - Upaya membangun pariwisata berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular di kawasan Destinasi Super Prioritas (DSP) Mandalika mulai menunjukkan hasil nyata. 

Konsorsium Lombok Eco Kriya yang terdiri atas Plana, Timba, dan Wise Steps Foundation, dengan dukungan Instellar Impact, menggelar diseminasi program Ekosistem Pariwisata Hijau berbasis ekonomi sirkular yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, pemberdayaan masyarakat, hingga akses pasar pariwisata dan ekspor.

Program ini menghadirkan pendekatan berbeda dalam pengelolaan limbah. Sampah plastik, botol kemasan, limbah kayu, hingga sekam padi tidak sekadar dikumpulkan, melainkan dibeli langsung dari masyarakat. Limbah tersebut kemudian dipilah, dicacah, dan diolah menjadi bahan setengah jadi sebelum diproses lebih lanjut menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi.

Sampah plastik dan sekam padi yang telah dicacah dikirim ke fasilitas pengolahan Plana di Tangerang, Banten, untuk diproses menjadi lembaran padat menyerupai papan atau kayu sintetis. Selanjutnya, bahan setengah jadi tersebut dikirim kembali ke Lombok untuk diolah menjadi beragam produk kerajinan yang menyasar pasar perhotelan, pariwisata, hingga luar negeri.

Salah satu perajin yang terlibat, Lalu Surya Bakti mengatakan, kehadiran ekosistem ekonomi sirkular ini memberikan dampak langsung terhadap penghidupan keluarga dan masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah, kami bisa meningkatkan kapasitas keluarga. Bahan-bahan yang selama ini dianggap tidak bernilai, seperti sekam padi dan plastik bekas, sekarang bisa kami olah menjadi produk yang diminati hotel,” ujar Surya, Sabtu (24/1/2026).

Ia menjelaskan, dari bahan berbasis sekam padi dan plastik daur ulang, para perajin mampu menghasilkan berbagai produk seperti papan dekoratif, tas, pouch, hingga perlengkapan interior. Produk-produk tersebut banyak digunakan hotel sebagai bagian dari konsep ramah lingkungan.

Menurut Surya, sistem pengumpulan bahan baku dirancang agar melibatkan masyarakat secara aktif. Sampah plastik dibeli berdasarkan berat, bahkan dalam beberapa kasus dapat ditukar dengan kebutuhan pokok seperti telur dan minyak goreng.

“Dengan sistem ini, masyarakat jadi lebih semangat mengumpulkan sampah. Lingkungan bersih, ekonomi juga jalan,” katanya.

Di tingkat desa, plastik yang sebelumnya dibuang ke parit dan kerap menyebabkan saluran air tersumbat kini dikumpulkan, dibersihkan, dijemur, lalu dipres menjadi lembaran. Lembaran tersebut kemudian dipotong dan dijahit menjadi tas belanja serta produk fesyen sederhana.

“Sekarang tas dari plastik daur ulang ini sudah banyak pesanan. Kami juga kolaborasi dengan penjahit dan kain tenun,” ungkap Surya.

Tak hanya menyasar pasar lokal, produk kerajinan berbasis limbah ini juga mulai menembus pasar internasional. Surya menyebut pengiriman produk telah dilakukan ke Jepang, termasuk Osaka, serta ke sejumlah negara di Afrika.

“Awalnya kami tidak menyangka, tetapi ternyata produk berbasis limbah ini justru punya nilai jual tinggi di luar negeri,” katanya.

Sementara itu, Co-Founder Tusha dan Plana, Joshua Christopher Chandra menjelaskan, proyek Lombok Eco Kriya telah berjalan sekitar satu tahun. Namun, peluncuran produk ke pasar baru dilakukan pada pertengahan tahun setelah proses pelatihan dan pendampingan perajin rampung.

“Di awal kami fokus ke training pengrajin dan sosialisasi tentang sustainability. Perjalanannya panjang. Baru setelah itu kami meluncurkan Tusha sebagai brand produk kerajinan hasil program ini,” kata Joshua.

Ia mengungkapkan, Lombok dipilih sebagai lokasi proyek karena memiliki potensi pariwisata besar yang sedang berkembang dan masih memiliki ruang untuk membangun ekosistem berkelanjutan sejak dini.

“Saya jatuh cinta dengan Lombok. Pariwisatanya belum se-established Bali, tetapi akan ke arah sana. Justru itu penting, sebelum terlalu ramai, kita bangun konsep yang sustainable dan tidak merusak alam,” ujarnya.

Proyek ini melibatkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari perajin Desa Bondet, pengelola bank sampah Bintang Sejahtera, hingga kelompok pemilah sampah. Masyarakat dilatih menjadi perajin, baik yang sudah memiliki keterampilan maupun yang dikembangkan dari nol.

“Yang kami jual bukan produk mesin, tapi produk kerajinan tangan. Dalam pariwisata, nilai craftsmanship itu sangat dihargai,” kata Joshua.

Untuk bahan baku, proyek ini memanfaatkan plastik jenis HDPE dan sekam padi yang dikombinasikan menjadi papan ramah lingkungan dengan karakteristik kuat, tahan air, dan fleksibel untuk berbagai kebutuhan, mulai dari dekorasi hingga pelapis dinding.

Saat ini, fasilitas produksi utama masih berada di Tangerang. Joshua mengakui pendirian pabrik pengolahan di Lombok membutuhkan investasi besar, namun diyakini dapat terwujud seiring meningkatnya permintaan.

“Kalau industri sudah berjalan dan order semakin banyak, secara logistik akan lebih efisien jika pabrik ada di Lombok,” ujarnya.

Selama satu tahun berjalan, Joshua menilai proyek ini telah mencapai target awal, khususnya dalam membangun kesadaran dan ekosistem ekonomi sirkular. Dari sisi bisnis, program ini juga dinilai berkelanjutan.

“Kalau sebuah program tidak sustain secara ekonomi, pasti berhenti. Puji Tuhan, sejauh ini kami masih sustain,” pungkasnya.(*) 
 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index