Jakarta,sorot.com – Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Andreas Santosa mengingatkan pemerintah Indonesia agar bersiaga menghadapi El Nino.
Pasalnya, fenomena La Nina kerap memberikan hasil panen yang baik, tetapi berbanding terbalik dengan kondisi El Nino.
“Di mana pun data saya mempelajari sejarah produksi padi 30 tahun terakhir, kalau La Nina produksi pasti naik. Tetapi kalau El Nino produksi pasti turun,” ujar Andreas di Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).
Andreas mengemukakan, El Nino diperkirakan akan terjadi dengan durasi hingga satu tahun, yakni pada pertengahan tahun 2026 hingga pertengahan tahun 2027.
“Perhitungan berbagai lembaga internasional menunjukkan kita akan mengalami El Nino mulai bulan Juni–Juli tahun ini. Dan berapa lama El Nino-nya? Satu tahun sampai Juli 2027,” ucapnya.
Ia menguraikan, sejumlah langkah perlu disiapkan untuk mengatasi kondisi tersebut. Apalagi, produksi beras diperkirakan akan mengalami penurunan hingga 5%.
Langkah tersebut harus mengutamakan perbaikan tata kelola pangan. Selain itu, pemerintah wajib menyiapkan kebijakan yang lebih berbasis fakta, termasuk dalam membaca data produksi dan kebutuhan pasokan.
Selanjutnya, pemerintah harus selalu mencermati informasi cuaca yang akurat sebagai pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dan upaya mitigasi. Pasalnya, ia menemukan adanya perbedaan informasi yang disampaikan oleh BMKG dan lembaga internasional terkait kondisi iklim.
“BMKG menyampaikan pekan lalu bahwa iklim 2026 baik-baik saja dan normal. Bisa dibayangkan lembaga sekelas BMKG, padahal seluruh lembaga internasional terkait cuaca menyatakan bahwa tahun 2026 terjadi El Nino,” tegasnya.(*)