Jakarta,sorotkabar.com – Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal mewanti-wanti adanya migrasi konsumen Pertamax ke bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite. Hal ini disebabkan selisih harga antara kedua jenis bahan bakar tersebut yang dinilai terlampau jauh.
Menurut Faisal, sebagian pengguna Pertamax akan mempertimbangkan beralih ke BBM yang lebih murah seperti Pertalite sebagai respons terhadap kenaikan harga yang cukup tinggi.
“Sangat mungkin dengan kenaikan yang begitu besar, banyak pelaku atau konsumen yang beralih ke Pertalite,” ungkap Faisal.
Namun demikian, perpindahan konsumsi tersebut tidak sepenuhnya mudah dilakukan. Pasalnya, distribusi dan konsumsi BBM bersubsidi maupun BBM penugasan telah diatur melalui berbagai mekanisme pengendalian.
Faisal menambahkan, adanya kuota dan pembatasan distribusi membuat ruang perpindahan konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM yang lebih murah menjadi terbatas.
“Peralihan konsumen ke kelas BBM yang lebih rendah saat ini tidak mudah dilakukan karena ada kontrol penggunaan, kuota, dan pembatasan suplai,” ujarnya.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang melonjak dari kisaran Rp 12.000-an menjadi Rp 16.000-an per liter menjadi sorotan sejumlah pihak, termasuk ekonom. Lonjakan harga yang terjadi dalam satu kali penyesuaian dinilai berpotensi menimbulkan guncangan.
Faisal mengatakan, besarnya kenaikan harga Pertamax tidak terlepas dari penundaan penyesuaian harga yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Akibatnya, ketika penyesuaian akhirnya dilakukan, kenaikan yang terjadi menjadi sangat besar.
“Mungkin karena juga ditunda, sehingga kenaikan harganya, lonjakannya cukup besar. Nah, itu yang mungkin saya sayangkan,” ungkap Faisal.
Menurutnya, dampak kenaikan harga akan lebih ringan apabila penyesuaian dilakukan secara bertahap sejak awal. Dengan mekanisme kenaikan yang lebih perlahan, masyarakat memiliki waktu untuk beradaptasi sehingga tidak menimbulkan tekanan yang terlalu besar terhadap pengeluaran rumah tangga.
Faisal menjelaskan, semakin lama penyesuaian harga ditunda, semakin besar pula selisih yang harus dikejar ketika harga akhirnya disesuaikan. Kondisi tersebut terlihat dari lonjakan harga Pertamax yang signifikan.
Kenaikan harga BBM dinilai memiliki dampak berantai terhadap berbagai sektor ekonomi. Selain meningkatkan biaya transportasi masyarakat, kenaikan harga energi juga berpotensi memicu kenaikan biaya distribusi barang dan jasa yang pada akhirnya mendorong inflasi.
“Itu dampaknya terhadap inflasi dan terhadap konsumen menjadi sangat besar karena menciptakan satu guncangan,” pungkasnya.(*)