Beijing,sorotkabar.com - Pemerintah China mengungkapkan pihaknya memberikan dukungan kepada Republik Demokratik Kongo (DRC) dan bekerja sama dengan Uni Afrika untuk mengatasi wabah Ebola di kawasan Afrika Barat.
"Pemerintah China telah memutuskan untuk memberikan bantuan kemanusiaan darurat kepada DRC, dan khususnya mengirim tim ahli medis untuk layanan dan bantuan medis," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (1/6).
Selain itu, China juga memberikan bantuan kepada Komisi Uni Afrika dan terlibat dalam kerja sama dengan mereka dalam pencegahan dan pengendalian Ebola, kata Lin Jian, menambahkan.
Perkembangan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) disebut dalam tingkatan yang sangat mengkhawatirkan menurut organisasi " Medecins Sans Frontieres" (Doctors Without Borders).
Menurut Direktur operasi "Doctors Without Borders" Alan Gonzalez mengatakan kecepatan penyebaran Ebola belum pernah terjadi sebelumnya, dan mereka yang berada di lapangan tidak mampu mengimbangi hal tersebut.
Sementara itu, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan dugaan kasus Ebola baru ditemukan setiap hari, tapi proses pemeriksaan yang lamban menghambat hasil diagnosis tepat waktu.
Kapasitas pemeriksaan harus segera ditingkatkan agar situasi tersebut, setidaknya dapat dikendalikan sebagian, kata Tedros.
"Kami turut prihatin atas wabah Ebola baru di DRC. Saat memimpin pertemuan tingkat tinggi Dewan Keamanan PBB di New York, Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan bahwa China akan selalu bergegas membantu ketika krisis publik besar terjadi," tambah Lin Jian.
Mengutip Wang Yi, Lin Jian menyebut bahwa pada 2015, China memberikan dukungan besar kepada tiga negara Afrika Barat yang memerangi Ebola, dan China sekarang siap untuk secara aktif membantu negara-negara yang terkena wabah terbaru, termasuk DRC.
"Dukungan Tiongkok juga diberikan kepada Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika dalam hal ini untuk meningkatkan kemampuan negara-negara Afrika dalam memerangi wabah tersebut," ungkap Lin JIan.
Mendukung respons negara-negara Afrika terhadap Ebola, menurut Lin Jian, adalah contoh nyata dari pembangunan komunitas China-Afrika yang selalu siap menghadapi segala tantangan dengan masa depan bersama untuk era baru, dan juga merupakan bagian penting dari sepuluh aksi kemitraan KTT FOCAC Beijing 2024.
"China telah mengirimkan 45 tim medis, dengan total lebih dari 900 anggota, ke 44 negara Afrika. Saat ini, tim medis China berada di lapangan memerangi penyakit tersebut bahu-membahu dengan masyarakat Afrika," kata Lin Jian.
Lin Jian menambahkan bahwa China menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil tindakan yang lebih konkret untuk membantu DRC dan negara-negara Afrika lainnya mengalahkan wabah tersebut secepat mungkin.
WHO sendiri telah menyatakan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.
Organisasi internasional itu menyebut lebih dari 900 kasus suspek Ebola dilaporkan di Republik Demokratik Kongo, termasuk 223 kematian yang diduga akibat penyakit tersebut.
Otoritas kesehatan Kongo menyatakan kasus suspek baru terus ditemukan, dengan jumlah kumulatif lebih dari 1.000 kasus yang tercatat sejak wabah Ebola diumumkan pada 15 Mei.
Strain Bundibugyo Ebola saat ini terkonsentrasi di tiga provinsi di bagian timur Kongo, yakni Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.
Wabah Ebola sebelumnya di DRC berakhir pada Oktober 2025.
Penyebaran Ebola di DRC dan Kongo disebut semakin parah karena Amerika Serikat menarik pendanaan dari WHO, membubarkan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), melakukan pemotongan di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, dan sedang dalam proses mengurangi total bantuan kesehatan yang diberikan kepada DRC dan Uganda, negara-negara yang menjadi pusat epidemi.
Semua langkah tersebut telah melemahkan sistem kesehatan global yang sangat penting untuk respons yang efektif terhadap wabah seperti ini.
Para pejabat AS disebut baru mengetahui tentang wabah tersebut sembilan hari setelah WHO mengetahuinya, hampir sebulan setelah orang pertama meninggal.
Keterlambatan dalam mengkonfirmasi wabah tersebut sebagian disebabkan karena sampel dibawa ke laboratorium nasional di Kinshasa, Kongo, pada suhu yang salah. Tugas itu sebelumnya akan dikelola oleh USAID.
Kondisi itu sangat berbeda misalnya dengan wabah Ebola pada 2014, saat USAI menangani pendirian klinik, impor ambulans, menghubungi orang-orang dengan kasus yang dicurigai, dan menyediakan staf untuk fasilitas isolasi.(*)