Jakarta,sorotkabar.com - Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menekankan pembelajaran tatap muka harus tetap menjadi prioritas dan mendukung keputusan pemerintah yang tidak jadi menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk menghemat energi di tengah dinamika global.
"Pembelajaran tatap muka harus tetap menjadi prioritas. Selain lebih efektif, pendekatan ini juga penting untuk menjaga kualitas interaksi, termasuk kegiatan praktikum yang tidak dapat tergantikan," kata Hetifah dalam keterangan diterima di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, dengan sistem zonasi yang telah berjalan, mayoritas siswa bersekolah relatif dekat dari rumah sehingga dampak terhadap konsumsi energi, khususnya dari aspek transportasi, tidak terlalu signifikan.
Di sisi lain, dia memandang belajar dari rumah memiliki sejumlah tantangan tang perlu diwaspadai, mulai dari risiko penurunan capaian belajar, keterbatasan interaksi guru dan siswa, hingga potensi meningkatnya kesenjangan akses karena perbedaan fasilitas dan pendampingan di rumah.
"Selain itu, aspek sosial emosional anak juga terdampak karena berkurangnya ruang interaksi dan pembentukan karakter," imbuh Hetifah.
Meski demikian, dia mengatakan pembelajaran jarak jauh tetap dapat dimanfaatkan secara fleksibel pada kondisi tertentu, seperti saat terjadi bencana alam, gangguan akses sementara, atau di wilayah terpencil dengan keterbatasan tenaga pendidik.
"Dalam situasi tersebut, pembelajaran jarak jauh menjadi solusi adaptif agar proses belajar tetap berlangsung," ujarnya.
Hetifah mengimbau pemerintah daerah untuk tidak ragu dalam melanjutkan pelaksanaan pembelajaran tatap muka usai libur Idul Fitri sesuai kebijakan yang telah ditetapkan, sembari terus meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat dukungan bagi guru, serta memastikan lingkungan belajar yang aman dan kondusif.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menyatakan pemerintah sedang menyusun strategi penghematan energi di sektor publik sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto.
Penyesuaian metode pembelajaran dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring) sesuai karakteristik mata pelajaran menjadi salah satu strategi utama penghematan energi lintas instansi yang disepakati pemerintah.
Pratikno, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (17/3), menjelaskan untuk menjaga kualitas pendidikan, kegiatan pembelajaran yang bersifat pratikum tetap diarahkan berlangsung secara tatap muka.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung di sekolah setelah rangkaian libur Idul Fitri.
Ia mengatakan wacana penerapan kegiatan belajar mengajar secara hibrida (daring dan luring) dibatalkan karena mempertimbangkan aspek akademik dan penguatan pendidikan karakter para murid.
"Sesuai hasil rapat lintas kementerian pada 23 Maret, pembelajaran di sekolah dilaksanakan sebagaimana biasa dengan pertimbangan akademik dan penguatan pendidikan karakter," kata Mu'ti saat dihubungi di Jakarta, Rabu (25/3).(*)