Washington,sorotkabar.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Minggu (15/3), mengatakan dirinya telah meminta sekitar tujuh negara untuk bergabung dalam koalisi yang akan mengawal kapal-kapal melintasi Selat Hormuz, Iran.
Trump sendiri tidak menjabarkan negara-negara tersebut, tetapi mereka sangat bergantung pada minyak Timur Tengah. Menurut dia, pengawalan penting karena Selat Hormuz menjadi area yang dilalui 20 persen pasukan minyak dunia.
"Saya meminta negara-negara tersebut untuk bergabung dan melindungi karena itu adalah wilayah mereka sendiri," ujar Trump kepada awak media di dalam pesawat Air Force One, merujuk pada selat tersebut.
Dalam sebuah wawancara dengan The Financial Times pada Minggu, Trump mengatakan negara-negara anggota NATO harus mengirimkan kapal perang untuk membantu membuka Selat Hormuz atau menghadapi masa depan yang "sangat buruk".
"Jika tidak ada tanggapan atau jika tanggapannya negatif, saya kira itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO," tutur dia kepada surat kabar Inggris tersebut.
Sebelumnya, laporan di The Wall Street Journal (WSJ), Minggu (15/3), menyebut Gedung Putih berencana mengumumkan pembentukan koalisi multinasional paling cepat pekan ini, mengutip pernyataan sejumlah pejabat AS.
Secara terbuka, banyak pemerintah enggan berkomitmen pada misi semacam itu sebelum perang AS-Israel dengan Iran berakhir, mengingat berbagai risiko yang menyertainya, ungkap WSJ dalam laporannya.
Padahal, Trump mengeklaim, via akun Truth Social pada Sabtu (14/3), banyak negara terutama yang terdampak upaya penutupan Selat Hormuz oleh Iran, akan mengirimkan kapal perang"guna mengamankan rute perdagangan minyak.
Dalam pesan pertamanya sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei pada Kamis (12/3) menyerukan agar penutupan Selat Hormuz dilanjutkan dan berjanji akan membuka front-front baru dalam konflik negaranya dengan AS dan Israel.
AS dan Israel melancarkan serangan masif terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang mengganggu pelayaran global, menyebabkan harga minyak melonjak dan mengguncang ekonomi global.(*)