Penutupan Selat Hormuz Ganggu Pasokan Minyak, Dampaknya Bisa Sampai Dapur Rumah Tangga

Minggu, 01 Maret 2026 | 20:49:05 WIB
Wikimedia CommonsSelat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman.

Jakarta,sorotkabar.com — Gangguan pelayaran di Selat Hormuz setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu kekhawatiran dampak ekonomi yang lebih luas. Jalur strategis itu selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Dikutip dari Bloomberg, Ahad (1/3/2026), sejumlah kapal tanker dilaporkan berbalik arah atau menunggu di sekitar pintu masuk selat. Jika gangguan berlanjut, harga minyak global berpotensi melonjak tajam.

Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan posisi Hormuz sangat menentukan stabilitas energi dunia. “Selat Hormuz itu titik cekik ekonomi dunia. Hampir 20 juta barel minyak per hari melintasinya. Kalau terganggu, harga pasti melonjak,” ujarnya, Ahad (1/3/2026).

Menurut dia, Indonesia sebagai negara pengimpor minyak akan terdampak langsung jika harga minyak dunia naik signifikan. Kenaikan harga minyak mentah bisa memperbesar beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik.

“Kalau harga minyak melonjak, subsidi energi bisa membengkak. Pemerintah mungkin harus merealokasi anggaran. Ini efek berantai,” kata Rahma.

Ia menambahkan, tekanan global biasanya juga diikuti pelemahan nilai tukar rupiah. Rupiah yang melemah akan membuat harga bahan baku impor lebih mahal dan mendorong inflasi.

“Bayangkan jika gangguan berlangsung lama. Harga energi naik, ongkos logistik naik, lalu harga kebutuhan ikut terdorong. Efeknya sampai dapur rumah tangga,” ujarnya.

Selain Hormuz, pelayaran di jalur lain di kawasan Timur Tengah juga menjadi perhatian. Ketidakpastian keamanan membuat pelaku pasar bersikap hati-hati. Harga minyak dan emas cenderung bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan konflik.

Rahma menilai pemerintah perlu memperkuat koordinasi pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri. Diversifikasi energi dan penguatan cadangan strategis dinilai penting untuk meredam dampak eksternal.

“Situasi geopolitik bisa berubah cepat. Yang penting Indonesia siap dari sisi fiskal, moneter, dan pasokan energi agar gejolak global tidak terlalu dalam dirasakan masyarakat,” katanya.(*) 

Terkini