Bank Sentral China Terus Borong Emas, Ini Prediksi Pergerakan Harga Emas Pekan Depan

Minggu, 15 Februari 2026 | 22:52:09 WIB
Republika/PrayogiPedagang mengambil logam mulia yang dipilih pembeli di salah satu toko perhiasan emas di Cikini, Jakarta, Jumat (12/9/2025).

Jakarta,sorotkabar.com – Harga emas atau logam mulia diprediksi akan bergerak fluktuatif pada pekan depan. Diperkirakan pergerakan harga komoditas safe haven tersebut berkisar antara Rp 2,92—Rp 3,15 juta per gram.

Tercatat pada penutupan perdagangan Sabtu (15/2/2026) pagi, harga emas dunia berada di level 5.042 dolar AS per troy ons. Harga logam mulia berada di posisi Rp 2,95 juta per gram.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuibi memperkirakan dua kemungkinan pergerakan harga emas, baik kemungkinan mengalami penurunan maupun peningkatan, berdasarkan berbagai sentimen yanga ada.

“Seandainya haarga emas turun, kemungkinan support pertama yakni 4.947 dolar AS per troy ons, kemudian harga logam mulia di Rp 2,92 juta per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangan suara, Ahad (15/2/2026).

Adapun support kedua yakni berada di posisi 4.818 dolar AS per troy ons, dan harga logam mulia sebesar Rp 2,86 juta per gram.

“Kalau harga emas dunia naik, resisten pertama di 5.134 dolar AS per troy ons, kemudian logam mulianya di Rp 3 juta per gram. Resisten kedua di 5.245 dolar AS per troy ons, logam mulianya di Rp 3,15 juta per gram,” terangnya.

Ibrahim menerangkan, setidaknya ada empat faktor yang memengaruhi pergerakan harga emas yang fluktuatif dalam sepekan ke depan. Yakni masalah geopolitik, perpolitikan di AS, kebijakan bank sentral AS, dan masalah supply dan demand.

Mengenai permasalahan geopolitik, yakni konflik antara AS dan Iran. Pertemuan antara Perdana Menteri Israel Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump mengalami sedikit masalah. Dan Trump menginginkan pertemuan tahap kedua. Di sisi lain, Trump kembali mengirimkan kapal induk USS Gerald Air Ford –kapal induk terbesar dunia- akan berangkat ke Timur Tengah.

“Ini mengindikasikan bahwa pada saat Trump melakukan pertemuan dengan Israel, dan mereka sepakat untuk persiapan melakukan penyerangan terhadap Iran di Timur Tengah. Ini yang kemungkinan besar akan membuat ketegangan tersendiri terhadap kondisi perpolitikan di Timur Tengah. Ini akan berdampak positif terhadap peningkatan harga emas,” terangnya.

Faktor yang kedua yakni tentang perpolitikan di AS. Ibrahim mengatakan, data laporan tenaga kerja AS cukup bagus, tetapi masih di bawah tekanan. Hal itu akibat meningkatnya ketidakpastian terhadap Trump yang memilih Kevin Warsh sebagai Gubernur Bank Sentral AS/The Fed, menggantikan Jerome Powell.

“Walaupun banyak orang yang tidak melihat nanti bagaimana ke depannya setelah Kevin Warsh menduduki jabatan sebagai Ketua The Fed, namun pasar sampai saat ini masih apatis terhadap penunjukkan Kevin Warsh oleh Trump,” tuturnya.

Faktor ketiga yaitu mengenai kebijakan suku bunga Bank Sentral AS. Data inflasi inti tahunan AS menunjukkan terjadi kenaikan 2,4 persen pada Januari 2026, lebih rendah dibandingkan konsensus para ekonom di 2,5 persen. Angka tersebut juga melambat dibandingkan bulan Desember 2025.

“Artinya bahwa indikasi ini membuat Bank Sentral AS kembali akan menurunkan suku bunga. Ini akan berdampak positif terhadap harga emas dunia dan logam mulia,” ujar Ibrahim.

Faktor terakhir, soal supply dan demand. Ibrahim menuturkan, bank sentral China sampai saat ini masih terus melakukan pembelian dan menumpuk logam mulia sebagai cadangan devisanya menggantikan mata uang dolar. Hal itu terbukti, cadangan devisa China mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

“Tetapi harus diingat, ada kemungkinan besar kenaikan harga emas akibat Bank Sentral China terus melakukan pembelian, ada indikasi bahwa ini terjadi spekulatif. Sehingga ada ketakutan bahwa rumor tentang spekulatif ini akan memengaruhi kenaikan harga emas dunia. Nah, ini yang harus diperhatikan,” kata dia.

Ibrahim mengatakan, kondisi itu membuktikan, permintaan untuk logam mulia terus mengalami kenaikan. Bahkan menurut prediksinya, hingga akhir tahun ini harga emas dunia bisa mencapai sekitar 6.000—6.500 dolar AS per troy ons. (*) 
 

Terkini