Kemenkes Soroti Rp 200 Triliun Dana BPJS untuk Semua Penyakit

Sabtu, 14 Februari 2026 | 19:38:09 WIB
akil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyampaikan keprihatinannya atas besarnya beban pembiayaan kesehatan yang harus ditanggung BPJS Kesehatan setiap tahun. Menurut Benjamin, anggaran sekitar Rp 200 triliun yang dikelola BPJS harus mencakup

Tangerang,sorotkabar.com - Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyampaikan keprihatinannya atas besarnya beban pembiayaan kesehatan yang harus ditanggung BPJS Kesehatan setiap tahun.

Menurut Benjamin, anggaran sekitar Rp 200 triliun yang dikelola BPJS harus mencakup seluruh biaya pengobatan masyarakat Indonesia untuk berbagai penyakit, termasuk penyakit katastropik, seperti gagal ginjal dan jantung.

“Uang Rp 200 triliun itu harus bayar semua penyakit. Kalau cuci darah naik terus, serangan jantung naik, enggak cukup. Akhirnya pemerintah darurat nombok,” ujarnya saat peresmian layanan kardiovaskular di RSUD Kota Tangerang, Sabtu (14/2/2026).

Benjamin mengungkapkan terjadi lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2019, anggaran untuk pasien cuci darah sekitar Rp 2,3 triliun. Namun pada 2025, angkanya melonjak menjadi lebih dari Rp 13 triliun. Sementara pembiayaan kasus penyakit jantung kini telah menembus lebih dari Rp 17 triliun.

Ia menjelaskan, tingginya biaya tersebut banyak dipicu penyakit tidak menular seperti, diabetes dan hipertensi yang tidak terkontrol. Kondisi tersebut, berujung pada stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah rutin.

Menurut Benjamin, layanan kesehatan selama ini masih dominan bersifat kuratif, yakni menangani pasien setelah jatuh sakit. Terkait hal itu, Kementerian Kesehatan memperkuat pendekatan preventif.

Salah satunya melalui pemeriksaan kesehatan gratis di ruang publik, termasuk posko kesehatan Merah Putih di pasar tradisional. Hal itu bertujuan, agar masyarakat bisa cek gula darah dan tekanan darah secara cepat dan gratis.

Dengan deteksi dini serta pengobatan segera, pemerintah berharap angka kejadian strok, cuci darah, dan serangan jantung dapat ditekan sehingga beban pembiayaan kesehatan nasional lebih terkendali di masa depan.(*) 
 

Terkini