Teluk Palu Dikepung Sampah, Ekosistem Mangrove Terancam

Senin, 26 Januari 2026 | 22:40:16 WIB
Sampah mengepung Teluk Palu, Sulawesi Tengah. (Beritasatu.com/Sukri)

Palu,sorotkabar.com - Pesisir Teluk Palu, Sulawesi Tengah, kembali menghadapi krisis kebersihan setelah jutaan sampah domestik terdampar dan memenuhi bibir pantai mulai dari Kelurahan Layana, Tondo, hingga Mamboro, Palu. 

Tumpukan limbah yang didominasi plastik, pakaian bekas, dan ranting kayu ini tidak hanya merusak estetika kota, tetapi juga mulai melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Bagi para nelayan lokal, fenomena ini adalah mimpi buruk tahunan yang kian memburuk. Nudin (45), seorang nelayan di Layana, mengeluhkan sampah-sampah tersebut menyandera perahunya. 

"Sudah 4 hari kami sulit melaut. Plastik-plastik ini sering melilit baling-baling mesin perahu," ujarnya, Senin (26/1/2026). Ia memprediksi volume sampah yang masih mengapung di lautan jauh lebih besar dibandingkan yang sudah mendarat di pesisir.

Secara geografis, bentuk perairan yang menjorok ke daratan (teluk) menjadikannya kantong penampung alami saat terjadi angin barat dan perputaran arus laut. Namun, kali ini situasinya lebih pelik, yakni sampah-sampah tersebut tersangkut pada jajaran pohon bakau (mangrove) yang sedang dalam masa pertumbuhan, sehingga sulit untuk dibersihkan secara manual.

"Kondisi ini berulang setiap ada angin barat. Namun, kali ini volumenya meningkat drastis dan tersangkut langsung di kawasan mangrove," kata Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu Ibnu Mundzir.

Ancaman kerusakan ekosistem bakau menjadi perhatian utama pemerintah setempat. Jika tidak segera dievakuasi, tumpukan plastik dapat menutupi akar napas bakau yang berujung pada kematian masif tanaman penahan abrasi tersebut. 

Sebagai langkah darurat, Pemerintah Kota Palu bersama sejumlah komunitas lingkungan telah memulai aksi pembersihan massal, meski tantangan arus laut terus membawa sisa-sisa limbah baru setiap jamnya.

Ibnu menegaskan, penanganan sampah di Teluk Palu tidak bisa dilakukan secara parsial. Isu ini merupakan akumulasi dari pola konsumsi dan sistem drainase dari hulu yang bermuara di laut. Sinergi antara pemerintah kota, provinsi, dan kesadaran warga untuk tidak menjadikan sungai sebagai tempat sampah menjadi kunci utama agar pesisir Sulawesi Tengah ini tidak terus-menerus menjadi keranjang sampah raksasa.(*) 

Terkini