Alasan PBSI Mengubah Sistem Promosi-Degradasi Atlet Bulu Tangkis

Senin, 12 Januari 2026 | 20:50:40 WIB
PBSI menerapkan sistem promosi-degradasi berbasis KPI. (Beritasatu.com/Jamaah)

Jakarta,sorotkabar.com - Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) resmi melakukan perubahan besar dalam tata kelola atlet bulu tangkis nasional.

Kebijakan baru ini menyentuh sistem promosi dan degradasi atlet yang tergabung dalam pemusatan latihan nasional (pelatnas). Perubahan tersebut dirancang untuk menyesuaikan pembinaan dengan tuntutan prestasi modern yang semakin kompetitif.

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Organisasi (PO) Nomor 012 Tahun 2025 tentang Mekanisme Rekrutmen, Promosi, dan Degradasi Atlet serta Pelatih Pelatnas PP PBSI.

Melalui aturan ini, PBSI menegaskan komitmennya untuk membangun sistem pembinaan yang lebih profesional, transparan, dan berorientasi pada kinerja nyata.

Penerapan Evaluasi Berbasis KPI

Dalam sistem terbaru, PBSI menerapkan evaluasi atlet secara berkelanjutan menggunakan key performance indicator (KPI). Setiap atlet akan dinilai berdasarkan target kinerja yang telah ditetapkan sesuai dengan level dan sektor masing-masing.

Dengan pendekatan ini, performa atlet tidak lagi dinilai secara periodik tahunan, melainkan dipantau sepanjang musim kompetisi.

"Evaluasi seorang atlet ditentukan oleh KPI yang sudah ditentukan oleh pelatihnya masing-masing. Jika seorang atlet tidak mencapai KPI yang telah ditetapkan maka akan terkena degradasi. Oleh karena itu jangka waktu degradasi setiap atlet akan berbeda tergantung dari KPI mereka masing-masing," tulis PBSI melalui keterangan tertulisnya, dikutip Senin (12/1/2026).

Konsekuensinya, atlet yang tidak mampu memenuhi target kinerja dapat mengalami degradasi kapan saja. Mekanisme ini dirancang agar pembinaan lebih adaptif dan responsif terhadap performa aktual atlet, sekaligus mendorong setiap individu untuk menjaga konsistensi prestasi.

Perubahan Jalur Promosi Melalui Seleksi Nasional

Selain degradasi, sistem promosi atlet juga mengalami penyesuaian. PBSI menetapkan bahwa promosi atlet menuju pelatnas akan difokuskan melalui jalur seleksi nasional (seleknas) yang digelar setiap awal tahun.

Skema ini membuka kesempatan yang lebih luas bagi atlet-atlet potensial dari berbagai daerah untuk masuk dalam pembinaan elite.

"Sementara itu untuk sistem promosi akan dilakukan lewat mekanisme Seleknas PBSI yang akan dilaksanakan setiap awal tahun dan untuk jumlah pengambilan pemain harus sesuai dengan kriteria yang dibuat oleh bidang pembinaan prestasi PP PBSI dan untuk jumlah akan disesuaikan dengan kebutuhan atlet di Pelatnas," kata Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Eng Hian.

Dengan pola tersebut, PBSI ingin memastikan bahwa atlet yang masuk pelatnas benar-benar memiliki kualitas dan kesiapan bersaing pada level internasional, bukan sekadar berdasarkan pertimbangan non-teknis atau momentum tertentu.

Alasan utama PBSI mengubah sistem promosi-degradasi adalah untuk menjaga dan meningkatkan prestasi bulu tangkis Indonesia dalam jangka panjang.

Target prestasi tidak hanya difokuskan pada turnamen domestik, tetapi juga pada kejuaraan Asia dan level dunia.

Seiring dengan target tersebut, kebutuhan pembinaan atlet pun harus terus menyesuaikan.

PBSI menilai mekanisme lama berupa pemulangan dan pemanggilan atlet yang rutin dilakukan setiap akhir tahun sudah tidak lagi relevan dengan konsep pembinaan berkelanjutan.

Oleh karena itu, mekanisme tersebut dihapus agar komposisi atlet pelatnas dapat dijaga secara lebih dinamis tanpa bergantung pada siklus waktu tertentu.

Percepatan Regenerasi Atlet

Sistem degradasi yang tidak terikat periode evaluasi tahunan juga bertujuan mempercepat regenerasi. Atlet-atlet muda berbakat kini memiliki peluang lebih besar untuk menembus pelatnas ketika menunjukkan potensi dan performa menjanjikan.

Pada sisi lain, atlet yang performanya menurun tidak lagi harus menunggu akhir tahun untuk dievaluasi. Dengan demikian, PBSI dapat secara cepat melakukan penyegaran skuad dan memberikan ruang bagi talenta baru untuk berkembang pada level yang lebih tinggi.

Perubahan sistem ini juga menekankan aspek transparansi dan objektivitas. Seluruh proses evaluasi atlet dilakukan berdasarkan indikator kinerja yang terukur dan telah ditetapkan sejak awal. Hal ini membuat proses pembinaan lebih jelas, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tidak hanya promosi, keputusan degradasi pun diambil berdasarkan hasil konkret di lapangan, bukan penilaian subjektif. Dengan cara ini, PBSI berharap tercipta iklim pembinaan yang adil dan profesional bagi seluruh atlet.

Padatnya kalender turnamen internasional juga menjadi faktor penting di balik perubahan kebijakan ini. Atlet bulu tangkis Indonesia menghadapi banyak target di berbagai kejuaraan sepanjang tahun, sehingga dibutuhkan sistem evaluasi yang fleksibel dan berkelanjutan.

Melalui sistem baru, atlet yang tidak mencapai target kinerja dapat langsung didegradasi tanpa menunggu evaluasi akhir tahun. Langkah ini memungkinkan PBSI menjaga kualitas tim nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Perubahan sistem promosi dan degradasi atlet menandai transformasi besar dalam pola pembinaan bulu tangkis nasional.

Evaluasi berbasis KPI yang dilakukan sepanjang tahun, promosi melalui seleknas, serta penghapusan mekanisme evaluasi tahunan menunjukkan keseriusan PBSI dalam membangun prestasi yang berkelanjutan.(*)

Terkini