Protes Krisis Ekonomi di Iran Meluas, 5 Warga Tewas dalam Bentrokan

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22:38 WIB
Protes warga Iran (AP/AP)

Teheran,sorotkabar.com - Gelombang protes akibat krisis ekonomi di Iran menelan korban jiwa. Jatuhnya korban ini akibat bentrokan berdarah pecah di wilayah barat dan barat daya negeri Persia ini, Kamis (1/1/2026). Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas.

Ketegangan meningkat saat massa mulai menyerang fasilitas publik dan markas keamanan. Di Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, ratusan orang berkumpul meneriakkan slogan antipemerintah. Situasi memanas ketika massa melempari gedung pemerintah dengan batu.

Pejabat lokal yang dikutip kantor berita Fars menyebutkan, kerusuhan pecah setelah polisi berupaya membubarkan kerumunan. "Sebagian pengunjuk rasa melepaskan tembakan ke arah aparat. Dua orang tewas dalam insiden tersebut," kata pejabat yang enggan disebutkan namanya itu seperti menyitat dari Antara, Jumat (2/1/2025).

Insiden lebih fatal terjadi di Kota Azna, Provinsi Lorestan. Tiga orang tewas dan 17 lainnya luka-luka saat sekelompok massa berupaya menyerbu gudang senjata di markas kepolisian setempat. Penyerangan ini disebut menggunakan senjata tajam dan api guna melucuti petugas.

Eskalasi kekerasan ini menyusul tewasnya seorang anggota pasukan Basij di Kuhdasht sehari sebelumnya. Hingga kini, aparat telah menahan sedikitnya 20 orang yang dianggap sebagai penggerak kerusuhan.

Gejolak ini berawal dari aksi pedagang di Grand Bazaar Teheran pada akhir Desember 2025 lalu. Mereka memprotes merosotnya nilai tukar rial yang memicu lonjakan harga kebutuhan pokok. Protes yang semula murni ekonomi kini merembet menjadi isu politik di berbagai kota.

Pemerintah Iran menanggapi situasi ini dengan nada lebih lunak dibanding periode sebelumnya. Juru Bicara Pemerintah Fatemeh Mohajerani menyatakan, negara mengakui adanya krisis dan tantangan nyata yang dihadapi rakyat.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta para pejabat untuk berhenti mencari kambing hitam atas kesulitan domestik. "Pemerintah bertanggung jawab atas persoalan ekonomi ini. Jangan selalu menyalahkan pihak eksternal atau Amerika Serikat," tegas Pezeshkian.(*)
 

Terkini