Berlin,sorotkabar.com – Prancis dan Jerman secara resmi mengumumkan pembatalan proyek ambisius pengembangan jet tempur generasi keenam bersama pada Senin (8/6/2026).
Keputusan ini menjadi pukulan besar bagi upaya memperkuat kerja sama pertahanan di antara negara-negara anggota Uni Eropa.
Pengumuman tersebut disampaikan bertepatan dengan pembukaan ILA Berlin Air Show 2026 dan dikonfirmasi langsung oleh kantor Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Pemerintah Prancis menyebut Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Emmanuel Macron telah mencapai kesimpulan dua perusahaan industri utama yang terlibat dalam proyek tersebut tidak mampu mencapai kesepakatan untuk membangun jet tempur bersama.
Apa Itu Proyek FCAS?
Dikutip dari Al Jazeera, program yang dikenal sebagai future combat air system (FCAS), atau dalam bahasa Prancis disebut système de combat aérien du futur (SCAF), pertama kali diluncurkan oleh Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman saat itu, Angela Merkel, pada Juli 2017.
Proyek ini digagas sebagai simbol kerja sama pertahanan Prancis-Jerman sekaligus upaya membangun otonomi strategis Eropa di bidang militer. Pada 2019, Spanyol bergabung sebagai mitra ketiga dalam program tersebut.
Tujuan utama FCAS adalah mengembangkan jet tempur berawak generasi keenam yang dirancang untuk menggantikan armada Rafale milik Prancis serta Eurofighter Typhoon yang digunakan Jerman dan Spanyol. Pesawat tempur baru tersebut ditargetkan mulai beroperasi sekitar 2040.
Selain pengembangan pesawat tempur utama, FCAS juga mencakup pembangunan drone tempur canggih dan jaringan data tempur berkeamanan tinggi yang dikenal dengan nama combat cloud.
Nilai keseluruhan proyek diperkirakan mencapai sekitar US$ 116 miliar atau setara sekitar Rp 1,89 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.300 per dolar AS). Angka tersebut menjadikannya salah satu proyek pertahanan terbesar dalam sejarah Eropa.
Penyebab Gagalnya Proyek FCAS
Kegagalan FCAS tidak terjadi secara tiba-tiba. Selama bertahun-tahun, proyek ini dibayangi perselisihan berkepanjangan antara dua kontraktor utama, yakni Dassault Aviation dari Prancis dan Airbus Defence and Space yang mewakili kepentingan Jerman serta Spanyol.
Perselisihan utama berpusat pada masalah kepemimpinan proyek dan pembagian pekerjaan industri. Dassault Aviation bersikeras menjadi kontraktor utama atau prime contractor dan menginginkan porsi pekerjaan hingga 80% dari total program.
Perusahaan tersebut menolak pembagian yang setara dengan Airbus karena khawatir kehilangan kendali atas desain dan hak kekayaan intelektual. Sebaliknya, Airbus menolak hanya berperan sebagai subkontraktor dan menuntut pembagian tanggung jawab yang lebih seimbang.
Selain persoalan industri, kedua negara juga memiliki kebutuhan operasional yang berbeda secara mendasar. Prancis membutuhkan pesawat tempur yang mampu beroperasi dari kapal induk dan membawa senjata nuklir sebagai bagian dari doktrin pertahanan nuklir independennya.
Sementara itu, Jerman tidak memiliki senjata nuklir dan lebih memprioritaskan kemampuan superioritas udara konvensional. Perbedaan kepentingan tersebut semakin menyulitkan proses pengembangan desain bersama.
Upaya Mediasi yang Berakhir Gagal
Pada awal 2026, Prancis dan Jerman sempat berupaya menyelamatkan proyek FCAS. Setelah pertemuan makan malam bilateral antara Emmanuel Macron dan Friedrich Merz di Brussel pada Maret 2026, kedua negara meluncurkan proses mediasi untuk mencari jalan tengah.
Namun, proses tersebut akhirnya runtuh pada 18 April 2026. Mediator dari pihak Jerman menyimpulkan pengembangan jet tempur berawak secara bersama-sama sudah tidak lagi realistis untuk diwujudkan.
Bahkan, Kanselir Friedrich Merz disebut sempat mencoba secara langsung membujuk CEO Dassault Aviation Eric Trappier, agar menerima skema kemitraan yang lebih setara dengan Airbus. Meski demikian, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
"Pihak berwenang Jerman menilai tidak mungkin lagi memberikan tekanan lebih lanjut kepada perusahaan-perusahaan yang terlibat," demikian pernyataan resmi Istana Élysée setelah pengumuman pembatalan proyek.
Combat Cloud Tetap Dilanjutkan
Meskipun program jet tempur generasi keenam dibatalkan, tidak semua elemen FCAS akan dihentikan. Pejabat Jerman menegaskan apa yang mereka sebut sebagai inti sesungguhnya FCAS masih akan diteruskan, yakni sistem combat cloud.
Combat Cloud merupakan arsitektur jaringan tempur yang dirancang untuk menghubungkan jet tempur, drone, sensor, hingga berbagai platform militer lainnya dalam satu sistem operasi yang terintegrasi.
Kementerian Pertahanan Prancis dan Jerman dijadwalkan menyusun peta jalan baru kerja sama pertahanan dalam pertemuan Dewan Menteri Prancis-Jerman yang akan berlangsung pada 17 Juli 2026.
Kerja sama tersebut akan difokuskan pada proyek-proyek yang dinilai lebih realistis dan relevan dengan kebutuhan pertahanan kedua negara.
"Pihak berwenang Prancis akan terus mendorong perusahaan dan angkatan bersenjata kami untuk mengeksplorasi cara dan sarana untuk mengejar proyek-proyek Eropa yang ambisius yang konsisten dengan kepentingan keamanan nasional kami," tulis Istana Élysée dalam pernyataan resminya.
Dampak Pembatalan FCAS bagi Eropa
Pembatalan FCAS terjadi pada saat yang dinilai sangat tidak menguntungkan bagi Eropa. Saat ini, negara-negara Eropa sedang berupaya memperkuat kemandirian pertahanan mereka di tengah meningkatnya tekanan geopolitik global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mempertanyakan komitmen Washington terhadap North Atlantic Treaty Organization (NATO) dan meminta negara-negara Eropa menanggung beban pertahanan yang lebih besar secara mandiri.
Trump bahkan sempat melontarkan ancaman yang mencakup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland dari Denmark, yang merupakan sesama anggota NATO.
Di sisi lain, perang Rusia-Ukraina masih terus berlangsung. Berbagai pihak di Eropa khawatir konflik tersebut dapat meluas ke kawasan perbatasan timur Uni Eropa.
Dalam situasi seperti itu, kegagalan FCAS dipandang sebagai kemunduran bagi ambisi Eropa membangun sistem pertahanan yang lebih mandiri dan terintegrasi.(*)