Jakarta,sorotkabar.com -- Gejolak di Selat Hormuz langsung mengguncang harga minyak dunia. Jalur vital energi global itu terancam terganggu, memicu lonjakan harga dan meningkatkan tekanan bagi negara pengimpor seperti Indonesia.
Laporan Reuters, Senin (30/3/2026), menyebutkan pasokan minyak mentah dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) menghadapi risiko serius seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia menjadi titik paling rawan dalam rantai pasok energi global.
Harga minyak merespons cepat. Minyak mentah Brent melonjak tajam dan menuju kenaikan bulanan terbesar dalam beberapa waktu terakhir, didorong kekhawatiran meluasnya konflik yang melibatkan Iran dan kawasan.
Analis Kpler, Naveen Das, menilai dinamika ini bukan kebetulan. Ia melihat ada tekanan yang sengaja diarahkan ke sektor energi. “Strateginya tampak menargetkan infrastruktur minyak untuk mendorong kenaikan harga,” ujarnya dikutip dari Reuters, Senin (30/3/2026).
Peringatan juga datang dari lembaga keuangan global asal Inggris, Barclays. Dalam analisisnya, gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi memangkas pasokan minyak global dalam jumlah besar, yang dapat memperketat pasar energi dunia.
Pemerintah Indonesia sendiri masih menyiapkan respons. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan kebijakan terkait dampak gejolak geopolitik Timur Tengah belum diumumkan. “Pengumuman terkait kebijakan pemerintah atas gejolak geopolitik Timur Tengah akan dilakukan pada waktu yang ditentukan kemudian, sambil proses detail kebijakan disiapkan,” demikian keterangan resmi yang disampaikan kepada media, Sabtu (29/3/2026).
Di dalam negeri, dampaknya mulai diantisipasi. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai lonjakan harga energi global akan langsung menekan fiskal dan sistem energi nasional.
INDEF mencatat, setiap kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel berpotensi menambah defisit anggaran sekitar Rp 6,8 triliun. Dengan lonjakan harga yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, tambahan tekanan fiskal dapat mencapai puluhan triliun rupiah.
Selain itu, ketergantungan pada impor energi juga berisiko menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah akan memperbesar biaya energi karena transaksi global masih didominasi dolar AS. “Volatilitas harga energi global tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga stabilitas fiskal dan makroekonomi,” demikian analisis INDEF.
Dampaknya akan terasa langsung ke masyarakat. Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong harga bahan bakar, ongkos logistik, hingga harga kebutuhan pokok. Pelaku usaha, terutama UMKM, menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
INDEF juga mengingatkan kondisi ini menunjukkan pentingnya memperkuat kemandirian energi nasional. Ketergantungan pada energi fosil membuat Indonesia rentan terhadap gejolak global, sehingga percepatan pengembangan energi terbarukan menjadi semakin mendesak.
Harga BBM di Indonesia Masih Stabil
Memasuki pekan terakhir Maret, harga bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina, Shell, bp, dan Vivo masih stabil sejak pecahnya perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Dikutip dari laman resmi Pertamina di Jakarta, Senin, tercatat harga Pertamax Series dan Pertamina Dex Series masih stabil sejak awal Maret 2026.
Berikut rincian harga BBM SPBU Pertamina di Jakarta:
Harga Pertalite Rp 10.000 per liter; solar subsidi Rp 6.800 per liter; Pertamax Rp 12.300 per liter; Pertamax Turbo Rp 13.100 per liter; Pertamax Green Rp 12.900 per liter; Dexlite Rp 14.200 per liter; dan Pertamina Dex Rp 14.500 per liter.
Meskipun masih mengalami kelangkaan stok, harga BBM di SPBU Shell terpantau stabil sejak awal Maret.
Rincian harga BBM di SPBU Shell:
Shell Super Rp 12.390 per liter; dan V-Power Diesel Rp 14.620 per liter.
Selanjutnya, harga BBM di SPBU bp juga menunjukkan kondisi serupa dengan SPBU Shell dan Pertamina, yakni stabil jika dibandingkan dengan harga BBM pada awal Maret.
Berikut rincian harga BBM di SPBU bp:
BP Ultimate Rp 12.930 per liter; BP 92 Rp 12.390 per liter; dan BP Ultimate Diesel Rp 14.620 per liter.
Sementara itu, harga BBM di SPBU Vivo juga tidak menunjukkan perubahan sejak awal Maret 2026.
Berikut daftar harga BBM SPBU Vivo:
Revvo 92 Rp 12.390 per liter; Revvo 95 Rp 12.930 per liter; serta Diesel Primus Rp 14.610 per liter.(*)