Pascagoula, AS,sorotkabar.com - Kebakaran terjadi di kapal perusak USS Zumwalt milik Angkatan Laut Amerika Serikat saat berlabuh di Pascagoula, Mississippi, pada Minggu (19/4/2026). Insiden ini mengakibatkan tiga pelaut terluka, dengan satu di antaranya harus menjalani perawatan di rumah sakit dalam kondisi stabil.
Informasi mengenai kejadian tersebut baru diumumkan oleh Angkatan Laut AS pada Rabu (22/4/2026). Hingga kini, penyebab kebakaran dan tingkat kerusakan pada kapal masih dalam proses penyelidikan.
Insiden itu terjadi ketika USS Zumwalt tengah menjalani pengujian pascamodernisasi di galangan kapal Huntington Ingalls Industries (HII). Program modernisasi yang dimulai sejak Agustus 2023 mencakup penggantian meriam jarak jauh 155 mm Advanced Gun System (AGS) dengan peluncur rudal hipersonik Conventional Prompt Strike (C-HGB).
Pada Desember 2024, kapal tersebut keluar dari dok kering dan memasuki tahap persiapan lanjutan sebelum kembali bertugas. USS Zumwalt kemudian melakukan pelayaran perdana pada 15 Januari setelah lebih dari dua tahun berada di galangan.
Sebagai kapal pertama di kelasnya, USS Zumwalt dikenal sebagai salah satu proyek militer termahal dalam sejarah AS. Namun, program ini menuai kritik akibat masalah desain, pembengkakan biaya, serta berbagai penundaan.
Kongres AS bahkan memangkas jumlah produksi dari 32 unit menjadi hanya tiga kapal. Saat ini, USS Zumwalt dan USS Michael Monsoor telah beroperasi, sementara USS Lyndon B. Johnson masih dalam tahap uji coba setelah diluncurkan pada 2019.
Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (Government Accountability Office/GAO) pada September 2020 mencatat biaya pembangunan setiap kapal kelas Zumwalt mencapai lebih dari US$ 9 miliar, termasuk riset dan pengembangan. Angka ini jauh melampaui estimasi awal sebesar US$ 1,3 miliar per kapal pada 1998.
GAO juga memperkirakan kemampuan operasional penuh kapal kelas ini baru dapat tercapai setelah 2025.
Awalnya, kapal kelas Zumwalt dirancang untuk menyerang target pesisir menggunakan meriam AGS, yang merupakan sistem artileri terbesar di kapal perang AS sejak Perang Dunia II. Meriam ini mampu menembakkan hingga 10 peluru per menit dengan jangkauan lebih dari 150 kilometer.
Namun, biaya amunisi Long Range Land Attack Projectile (LRLAP) yang mencapai hampir US$ 1 juta per peluru membuat Angkatan Laut AS membatalkan penggunaannya. Sebagai gantinya, dilakukan modifikasi sistem persenjataan dengan mengintegrasikan rudal hipersonik jarak jauh Intermediate-Range Conventional Prompt Strike (IRCPS).(*)