Tahun Kuda Api, IHSG Dinilai Menarik bagi Investor Disiplin

Selasa, 17 Februari 2026 | 17:14:04 WIB
Karyawan melintas di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Jakarta,sorotkabar.com – Memasuki 2026, yang dalam tradisi Tionghoa dikenal sebagai Tahun Kuda Api, prospek pasar modal Indonesia dinilai penuh peluang, tetapi tetap menuntut kedisiplinan tinggi dari investor. Karakter Kuda Api yang agresif, tetapi butuh kendali, dianggap relevan dengan dinamika pasar tahun ini.

Chief Economist, Macro Strategist & Debt Research Division Head BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, menyebut 2026 sebagai “tahun transformasi” karena implementasi sejumlah aturan dan perubahan kebijakan mulai berdampak nyata pada pasar keuangan.

“Tahun lalu bukan tahun yang mudah. Sejak 2022, faktor geopolitik menjadi dominan dan membuat pasar naik-turun tajam,” ujarnya dalam BRIDS Market Outlook 2026 – Strategi Kuda Api akhir pekan lalu.

Helmy menjelaskan ada dua tema global utama yang membayangi pasar, yakni ketidakpastian geopolitik dan eskalasi perang tarif yang diinisiasi Presiden Donald Trump. “Dua hal itu tampaknya sulit hilang dalam waktu dekat,” katanya.

Meski begitu, revisi positif atas proyeksi pertumbuhan global mulai muncul meski belum signifikan. “Daya beli mulai membaik, likuiditas longgar, dan aktivitas usaha meningkat. Biasanya kondisi seperti ini diikuti penguatan pasar modal. Investor yang disiplin berpeluang menangkap pertumbuhan tersebut,” tambah Helmy.

Menurut BRIDS, stabilnya suku bunga global dan kebijakan moneter domestik yang akomodatif membuat instrumen fixed income tetap menarik. Perbaikan fundamental emiten juga membuka ruang pertumbuhan bagi saham. BRIDS memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1%–5,3% pada 2026, ditopang konsumsi, investasi, dan likuiditas sektor keuangan. Optimisme tercermin dari indeks kepercayaan konsumen yang naik ke 127, tertinggi dalam setahun.

Secara terpisah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, menekankan bahwa pergerakan IHSG pada 18–20 Februari 2026 akan dipengaruhi laporan keuangan tahunan 2025.

“Secara umum, kinerja 2025 memberikan katalis positif bagi emiten dengan pertumbuhan laba solid dan margin yang terjaga,” ujarnya.

Hari menambahkan, arah suku bunga akan memengaruhi sektor perbankan dan properti, sementara reformasi pasar oleh Bursa Efek Indonesia meningkatkan kepercayaan investor jangka menengah. Secara teknikal, IHSG masih berkonsolidasi karena belum menembus resistance 8.300, dengan support di 8.120.

“Selama resistance belum terlewati, pergerakan cenderung sideways dengan volatilitas terbatas,” jelas Hari.

Hari menilai sektor komoditas, terutama batu bara, nikel, dan emas, tetap menarik karena permintaan global dan harga stabil. Strategi akumulasi bertahap di area support dan disiplin manajemen risiko menjadi kunci optimalisasi portofolio.(*) 
 

Terkini

BPK Mulai Periksa Laporan Keuangan BGN hingga Kemenhan

Selasa, 17 Februari 2026 | 20:05:40 WIB

Ukraina Tuding Rusia Tak Mau Akhiri Perang

Selasa, 17 Februari 2026 | 20:02:12 WIB

Kemenhut Kerahkan 160 Personel Padamkan Karhutla Riau

Selasa, 17 Februari 2026 | 17:16:27 WIB