Industri Hijau: Strategi Hidup di Tengah Badai Krisis Global

Sabtu, 31 Januari 2026 | 21:33:30 WIB
www.freepik.comIndustri hijau (ilustrasi/republika)

Jakarta,sorotkabar.com- Di tengah badai ketidakpastian ekonomi global yang makin mengganas, transformasi industri hijau bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan strategi bertahan hidup bagi industri nasional. 

Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini memperingatkan dengan keras: industri yang tidak berani berubah sekarang bukan hanya akan kalah bersaing, tetapi berisiko tinggi tergilas sepenuhnya oleh kombinasi ancaman krisis global.

Indonesia saat ini menghadapi tekanan ekonomi global yang kompleks, berupa pelemahan nilai tukar rupiah, lonjakan harga energi, dan ketegangan geopolitik, seperti persaingan AS-China dan konflik di Ukraina, yang mengacaukan rantai pasok dunia. Kombinasi mematikan ini tidak hanya menekan industri besar, tetapi dampaknya merembes langsung ke tingkat rumah tangga dan petani melalui kenaikan biaya hidup dan produksi yang mencekik.

Transformasi Hijau yang Harus Menyeluruh

Dalam kunjungan spesifik ke PT Japfa Comfeed Indonesia di Lampung, Novita mengapresiasi langkah awal pemanfaatan energi surya. Namun, ia menegaskan bahwa industri hijau tidak boleh hanya jadi pencitraan. “Green industry bukan hanya soal panel surya. Ia harus menyentuh manajemen limbah, perlindungan ekosistem, efisiensi sumber daya, dan dampak nyata bagi lingkungan,” tegasnya. Ia mendorong Japfa menjadi pilot project hijau yang menerapkan prinsip keberlanjutan dari hulu ke hilir.

Lebih dari sekadar efisiensi energi, Novita menekankan bahwa kesuksesan industri hijau juga diukur dari kemampuannya menciptakan keadilan ekonomi. Industri besar didorong untuk tidak bergerak eksklusif, melainkan membuka ruang kolaborasi nyata dengan UMKM dan usaha mikro. Hal ini sejalan dengan semangat kemandirian pangan, agar manfaat transformasi hijau bisa dirasakan hingga ke lapisan ekonomi terbawah. Tanpa aspek keadilan ini, konsep hijau dianggap hanya sebagai jargon belaka.

Komisi VII DPR RI terus mengawal implementasi transformasi ini, menekankan bahwa hanya dengan pendekatan menyeluruh, yang menggabungkan ketangguhan lingkungan, efisiensi ekonomi, dan keadilan sosial, industri nasional bisa bertahan dan unggul di tengah krisis.

Untuk Keberlanjutan

Industri hijau kini bukan sekadar tren, melainkan strategi bertahan hidup paling ekstrem bagi perusahaan yang tak ingin "mati muda" di tengah ancaman kiamat iklim dan krisis energi dunia.

Berikut adalah penjelasan 8 paragraf mengenai industri hijau, perbedaannya, serta keberhasilannya:

Industri Hijau adalah model industri yang mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan pada setiap proses produksinya. Fokus utamanya adalah menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas.

Hal ini sejalan dengan visi Kementerian Perindustrian yang mendorong perusahaan untuk menerapkan standar hijau demi daya saing yang lebih kuat di pasar internasional.

Perbedaan mendasar antara industri hijau dengan industri konvensional terletak pada filosofi produksinya. Industri konvensional cenderung menggunakan prinsip "ambil-buat-buang" yang seringkali mengabaikan limbah dan konsumsi energi yang boros selama target keuntungan tercapai.

Sebaliknya, industri hijau mengadopsi prinsip ekonomi sirkular, di mana setiap sisa produksi diproses kembali atau diminimalisir agar tidak mencemari ekosistem.

Dalam aspek operasional, industri hijau sangat bergantung pada inovasi teknologi rendah karbon dan Energi Terbarukan.

Jika industri biasa masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil seperti batu bara yang polutif, industri hijau mulai beralih menggunakan panel surya, biomassa, atau energi angin.

Langkah ini diambil bukan hanya untuk gaya hidup, tetapi sebagai proteksi terhadap fluktuasi harga energi global yang kian tidak menentu.(*)

Halaman :

Terkini