Seoul,sorotkabar.com – Tekanan inflasi yang kian mencekik di ibu kota Korea Selatan memicu fenomena unik bagi para pekerja kantoran. Demi mendapatkan seporsi makan siang yang terjangkau, banyak karyawan rela menempuh perjalanan jauh hingga ke pasar tradisional untuk menghindari harga restoran yang kian tak masuk akal.
Park, seorang pekerja di distrik keuangan Yeouido, kini rutin bersepeda bersama rekan-rekannya menuju Pasar Yeongdeungpo. Tujuan mereka satu: mencari warung sup sosis darah (soondae-guk) dengan harga ramah kantong.
"Restoran di sekitar kantor sekarang pasang harga minimal 15.000 won (sekitar Rp 175.000). Bahkan ada tempat yang harganya sampai 20.000 hingga 30.000 won. Padahal di pasar, semangkuk nasi campur tauge cuma 5.000 won, dan mi segar cuma 6.000 won," ujar Park membandingkan.
Fenomena "migrasi" makan siang ini terlihat jelas di Pasar Yeongdong, Distrik Gangnam, salah satu kawasan elite dan termahal di Seoul. Setiap pukul 12.30 siang, puluhan pekerja berjas lengkap dengan lencana karyawan tampak mengantre di antara kios ikan dan daging segar.
Seo (47), seorang pemilik warung di Pasar Yeongdeungpo, mengaku terkejut dengan perubahan ini. Selama 10 tahun berbisnis, ia belum pernah melihat gelombang pekerja kantoran sebanyak sekarang.
"Banyak karyawan dari Yeouido yang sewa sepeda umum cuma buat makan siang ke sini. Mereka rela menempuh jarak jauh asal bisa hemat uang," kata Seo.
Data dari penyedia voucer makan elektronik, Payco, menunjukkan lonjakan biaya makan siang yang signifikan di kawasan bisnis utama Seoul. Di Samseong-dong, rata-rata biaya sekali makan mencapai 15.000 won, diikuti Gangnam sebesar 14.000 won, dan Yeouido sekitar 13.000 won. Angka ini jauh melampaui rata-rata biaya makan siang di sudut kota lainnya.
Kondisi ini membuat kafetaria atau ruang makan komunal kini menjadi primadona baru. Kantin Perusahaan Kereta Api Korea (Korail) di Stasiun Yongsan dan Cheongnyangni, misalnya, selalu penuh sesak. Dengan harga 7.000 won, pengunjung sudah mendapatkan menu lengkap berupa nasi, sup, dan tiga lauk pauk.
Bahkan, beberapa hotel di Distrik Jung-gu mulai membuka kantin karyawannya untuk masyarakat umum. Menu seperti potongan daging babi goreng tepung (tonkatsu) dan tahu rebus menjadi daya tarik utama bagi karyawan dari gedung-gedung sekitar.
Profesor Lee Eun-hee dari Universitas Inha mencatat bahwa tren ini bukan sekadar upaya berhemat, melainkan cerminan pergeseran perilaku konsumen muda Korea di bawah tekanan ekonomi.
"Makan di pasar atau kantin bukan hanya soal menghemat uang; tetapi juga tentang mendapatkan nilai riil atas uang yang dikeluarkan (value for money). Ini sangat relevan dengan anggaran ketat yang dihadapi anak muda saat ini," jelas Profesor Lee.(*)